Jakarta, Porosjambimedia.com — Pengadilan federal Amerika Serikat menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Ryan Routh dalam perkara percobaan pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump. Putusan tersebut dibacakan pada Rabu (4/2) waktu setempat.
Ryan Routh, pria berusia 59 tahun, dinyatakan bersalah atas perencanaan aksi pembunuhan yang dilakukan pada Desember 2024, sekitar dua bulan sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat digelar. Hakim Distrik AS, Aileen Cannon, menyebut tindakan Routh sebagai upaya pembunuhan yang dirancang secara sadar dan penuh perhitungan.
Berdasarkan dakwaan jaksa, Routh bersembunyi di area semak-semak Trump International Golf Club di West Palm Beach, Florida, saat Donald Trump sedang bermain golf. Ia diketahui membawa senjata api semi otomatis dan berada di lokasi tersebut selama hampir 10 jam sebelum akhirnya terdeteksi oleh agen Secret Service.
“Ini adalah rencana pembunuhan yang disengaja dan berpotensi menghilangkan nyawa kepala negara,” ujar Hakim Cannon dalam persidangan, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Selama proses hukum berlangsung, Routh memilih membela dirinya sendiri tanpa pengacara. Ia sempat meminta hakim menjatuhkan hukuman penjara selama 27 tahun. Namun, jaksa penuntut menilai perbuatannya sebagai ancaman langsung terhadap demokrasi Amerika Serikat dan mendesak agar terdakwa dijatuhi hukuman seumur hidup.
Jaksa juga mengungkap bahwa Routh telah berada di wilayah Florida Selatan selama hampir satu bulan sebelum kejadian. Ia tinggal di kawasan peristirahatan truk dan secara aktif mengumpulkan informasi terkait pergerakan Trump.
Dalam beberapa pernyataannya di pengadilan, Routh berbicara mengenai isu konflik internasional dan bahkan menyampaikan keinginan untuk ditukar dengan tahanan politik di luar negeri. Meski demikian, ia membantah memiliki niat untuk membunuh Trump dan menyatakan bersedia menjalani perawatan kesehatan mental selama masa hukuman.
Kasus ini menambah daftar ancaman terhadap keselamatan Donald Trump. Sebelumnya, Trump juga selamat dari percobaan pembunuhan lain saat kampanye di Butler, Pennsylvania, di mana peluru penyerang sempat menyerempet telinganya. (Dta)















