Menerka Karakter Manusia Kerinci

- Redaksi

Sabtu, 12 September 2026 - 20:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Harul Mukri Ananta

Kerinci, Porosjambimedia.com – Masa kolonial di Kerinci. “Dasar keras kepala! Pembangkang!” begitulah stereotip yang diungkapkan penjajah dalam laporannya tentang Afdeeling Korintji. Laporan yang akan kita ulik dalam tulisan kali ini, juga memaparkan bagaimana karakter manusia Kerinci dalam pandangan “Tuan Aken” itu. Barangkali manusia Kerinci belum tahu karakternya sampai saat ini.

Infiltrasi yang terjadi pada Mei hingga September 1903 tersebut dikenal sebagai Ekspedisi Kerinci (Koerintji-expeditie). Berdasarkan rekonstruksi dokumen sejarah, kolonialisasi tidak hanya bergerak lewat moncong senjata, tetapi disusul oleh penaklukan epistemologis berupa pencatatan sosial-kultural masyarakat setempat.

Namun, di balik rimbunnya hutan Lolo Kecil, “orang-orang bermata biru” itu tidak menemukan ketundukan. Konflik bersenjata ini berakhir dengan jatuhnya Benteng Pulau Tengah. Puing-puing kekalahan militer inilah yang kemudian membuka jalan bagi pejabat sipil seperti Anton Philip van Aken untuk masuk dan menulis Dokumen Nota betreffende de afdeeling Koerintji (1915).

Karakter Manusia Kerinci

Manusia Kerinci adalah sebuah teka-teki sosiologis. “Hal pertama yang membedakan penduduk Kerinci dari kerabat suku sekitarnya,” tulis Van Aken dalam memorinya, “adalah (groote werkzaamheid) semangat kerja mereka yang luar biasa, yang berkelindan erat dengan sifat hemat.”

Van Aken menuliskan bahwa masyarakat Kerinci memiliki kecerdasan yang tinggi.

Ketajaman akal ini membuat mereka sangat pragmatis, dengan cepat mengenali hal-hal baru yang bermanfaat dan menguntungkan, lalu segera membuang tradisi lama jika memang diperlukan. Van Aken membuat sebuah proyeksi komparatif. Ia mengakui bahwa suku-suku tetangganya seperti orang Jambi, Bengkulu, dan Padang Rendah saat itu sudah melangkah lebih maju. Namun, karena ketajaman akal sehat dan kecepatan belajar yang dimiliki manusia Kerinci, Van Aken menegaskan bahwa ketertinggalan itu tidak akan lama.

“…en het zal niet lang meer duren of hij is den Bovenlander terzijde.” (…dan tidak akan lama lagi mereka (manusia Kerinci) akan menyusul dan berdiri sejajar dengan penduduk dataran tinggi lainnya).

Baca Juga :  Hubungan DJ Bravy Dan Erika Carlina Berakhir, Akui Kesalahan Sendiri Jadi Penyebab Perpisahan

Namun, jurnalisme kolonial selalu menyisipkan bias. Van Aken melayangkan kritik tajam terhadap laporan para pejabat militer terdahulu yang memberi label pada penduduk Kerinci sebagai masyarakat yang pemarah (driftig), keras kepala (koppig), dan pembangkang (recalcitrant).

Sebagai seorang administrator sipil, Van Aken melakukan dekonstruksi terhadap stereotip tersebut. Ia berargumen bahwa penentangan masyarakat Kerinci bukanlah watak genetis yang dibawa sejak lahir, melainkan sebuah respons defensif akibat kebijakan sewenang-wenang pejabat militer Hindia Belanda sebelumnya.

Namun, Tuan Aken bukanlah pengagum yang naif. Saat malam semakin larut, guratan penanya berubah menjadi pisau bedah yang dingin. Ia mencatat kegelapan yang berkelindan di balik dinding-dinding “Rumah Larik” tradisional. Di balik etos kerja yang masif, tersimpan ironi sosial yang pekat, penyalahgunaan kekuasaan, kebohongan, praktik pencurian kecil menjadi makanan sehari-hari di Kerinci.

Jika kita menarik garis sejarah tersebut ke dalam realitas kontemporer, kita akan menemukan sebuah paradoks yang melintasi zaman. Karakter positif seperti kelincahan berbisnis dan kemampuan adaptasi intelektual memang berhasil membawa putra-putri Kerinci menguasai sektor birokrasi dan perdagangan. Namun, sisi distopia yang dicatat Van Aken terbukti masih “lestari”.

Egoisme kelompok, mentalitas transaksional dalam politik lokal, dan nepotisme structural sering kali menjadi penghambat pembangunan. Lebih jauh lagi, catatan Van Aken mengenai konflik antar-dusun (verschillende doesoens vroeger met elkander in oorlog) yang dipicu oleh perebutan sejengkal tanah, di mana mereka menganggap perkelahian massal (kloppartij) sebagai olahraga musiman, dalam bentuk tawuran antar-desa di era modern. Ini adalah bukti bahwa modernitas teknologi belum sepenuhnya mencabut akar disintegrasi sosial tradisional yang purba.

Bagaimana masa depan Kerinci di tengah himpitan zaman? Van Aken memberikan sebuah kalimat nubuat yang menarik di tengah halaman 5, “Het onderwijs zal in deze veel tot verbetering kunnen bijdragen” (Pendidikan akan mampu memberikan kontribusi besar bagi perbaikan ini).

Baca Juga :  Darurat Sampah? Tenang! Tim Orange Siaga, Kerinci Terapkan Sistem Baru Atasi Sampah

Masa depan Alam Kerinci tidak lagi ditentukan oleh tajamnya bilah keris atau keramatnya hulubalang, melainkan oleh pendidikan. Hutan-hutan yang mengepung lembah harus dipandang sebagai modal ekologis, bukan sekadar objek eksploitasi. Namun, penulis yakin dengan kesadaran kolektif dalam meninggalkan egoisme komunal dusun dan membumihanguskan penyalahgunaan kekuasaan, maka nubuat kolonial itu akan runtuh. Barulah kita bisa dengan khidmat mendengar lagu “Majeu Kincai” yang ditulis oleh Iskandar Zakaria,

Dangea lah kamai ngato

Ilok nian lah budi kayo

Kinai lah taro kinai

Samo mumbangun tanoh kincai

Dengan harapan lirik yang mengalir dari lagu ini lambat laun akan menenggelamkan streotip kolonial dan melunturkan sekat-sekat ego dusun purba.

Pada akhirnya, perjalanan menelusuri memori kolektif manusia Kerinci melalui colonial gaze Anton Philip van Aken membawa kita pada sebuah refleksi kritis. Namun, sejarah modern juga menuntut keberanian yang sama besar untuk menguliti dan membuang parasit-parasit sosial yang masih tertinggal.

 

Sumber:

Van Aken, A. Ph. (1915). Nota betreffende de afdeeling Koerintji. Batavia: Encyclopaedisch Bureau. 

Sunliensyar, H. H. (2025). The Impact of Colonialism on Pusaka Manuscript Collections in Kerinci

Zakaria, I. (1985) / Saputra, A. et al. (2024). Perjuangan Masyarakat Adat Dan Ulama Pulau Tengah Kerinci Terhadap Kolonialisme Belanda 1901-1903.

Jurnal Sejarah Universitas Jambi. (Studi Pola Perlawanan Adat & Ulama).

Berita Terkait

PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
‎Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ
Himsak Kecam Gubernur Jambi: Jangan Sulap Bencana Menjadi Laporan Pencitraan di Hadapan Presiden
Menagih Komitmen Tata Kelola Lingkungan di Mendalo Darat
Selamat Jalan H. Bakri: Jambi Kehilangan Putra Terbaik, IKAMI Kehilangan Sosok Pengayom
LBH NADI Perkuat Sinergi dengan BNNP Jambi, Soroti Modus Baru “Pod Getar” dan Dorong Penguatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba
Pemimpin Viral Belum Tentu Pemimpin Ideal
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB