JAKARTA , PorosJambiMedia.com — Industri film Indonesia kini tengah memasuki babak baru. Setelah lama berjuang di tengah keterbatasan anggaran dan teknologi, kini sinema Tanah Air mulai dilirik dunia berkat pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses produksi.
Langkah ini disebut sebagai revolusi kreatif yang bisa membawa film Indonesia sejajar dengan Hollywood.
Perkembangan pesat AI kini telah menyentuh berbagai sektor kehidupan, termasuk industri hiburan dan perfilman. Tidak hanya membantu dalam tahap produksi, teknologi ini juga berperan dalam mempercepat proses editing, penyusunan naskah, hingga efek visual yang sebelumnya memakan waktu dan biaya besar.
Pada 21 April 2025, Academy of Motion Picture Arts and Sciences—penyelenggara ajang bergengsi Oscars—secara resmi mengumumkan bahwa film yang menggunakan teknologi AI generatif tetap bisa bersaing dalam nominasi penghargaan.
Namun, Akademi menegaskan bahwa unsur manusia harus tetap menjadi inti dari setiap karya.
“Teknologi digital dan AI boleh digunakan, tetapi kreativitas manusia tetap menjadi penentu utama,” tulis Akademi di situs resminya.
Kebijakan ini muncul di tengah protes dari kalangan pekerja kreatif di Hollywood yang khawatir AI akan menggantikan peran aktor dan kru film.
Salah satu kontroversi besar datang dari munculnya Tilly Norwood, aktris digital berbasis AI yang dianggap mengancam profesi aktor manusia.
Organisasi artis terbesar di AS, SAG-AFTRA, menegaskan bahwa kreativitas sejati hanya bisa lahir dari manusia, bukan algoritma.
Sementara itu, Indonesia justru memanfaatkan momentum ini dengan cerdas. Pada Mei 2025, film dokumenter “Nusantara” karya Helmy Yahya berhasil meraih penghargaan Best Documentary di ajang AI Film Awards Cannes 2025.
Film tersebut dibuat dengan dukungan teknologi AI dan menceritakan kembali kisah legendaris Gajah Mada, simbol persatuan Nusantara. Kemenangan ini membuka mata dunia terhadap potensi sinema Indonesia di era digital.
“Kita berada di titik penting dalam sejarah film Indonesia. AI memberi peluang besar bagi sineas lokal untuk menciptakan karya berkualitas tinggi tanpa terkendala biaya,” ujar Bisma Fabio Santabudi, dosen film dan animasi Universitas Multimedia Nusantara.
Bisma menambahkan, teknologi seperti Sora, ChatGPT (OpenAI), dan Veo (Google) mulai diadopsi para kreator Indonesia untuk mempercepat proses produksi tanpa mengorbankan kualitas.
Meski membawa efisiensi, sejumlah seniman menilai AI tetap tidak bisa menggantikan emosi dan intuisi manusia dalam berkarya. Maximillian R, seorang concept artist, menyebut bahwa mesin tidak memiliki kemampuan memahami “mood” dan “rasa” yang menjadi roh dalam sebuah film.
“AI bisa jadi alat bantu, tapi tidak bisa menggantikan manusia. Mesin tidak paham intensi dan emosi,” jelas Maximillian kepada CNBC Indonesia (14/10/2025).
Ia mencontohkan beberapa film animasi berbasis AI yang terlihat “kosong” karena karakter di dalamnya bergerak tanpa ekspresi dan kedalaman.
Selain itu, ia juga menyoroti kecenderungan industri yang menggantikan pekerja seni dengan AI demi efisiensi biaya—yang justru menurunkan kualitas karya.
Meski masih menuai pro-kontra, Asosiasi Produser Film Indonesia (APFI) menilai AI sebagai alat strategis yang bisa membawa perfilman nasional ke level global.
Ketua APFI, Agung Sentausa, menuturkan bahwa teknologi AI memungkinkan film Indonesia menghasilkan visual dan narasi sekelas Hollywood dengan biaya jauh lebih kecil.
“Dengan anggaran yang minim, kita bisa membuat karya berkualitas tinggi. AI bukan ancaman, tapi peluang,” ujarnya.
Saat ini, anggaran rata-rata film Indonesia sekitar Rp10 miliar, kurang dari 1% dari biaya produksi film besar Hollywood.
Kemenangan “Nusantara” menjadi bukti nyata bahwa kombinasi antara kreativitas lokal dan teknologi global bisa membawa Indonesia ke panggung internasional.
Bahkan, Festival Internasional AI Bali 2025 berhasil menarik puluhan sineas dari berbagai negara. Dalam iterasi keduanya, festival ini menerima lebih dari 80 film berbasis AI—membuktikan bahwa Indonesia kini menjadi pusat perhatian baru di industri film berbasis teknologi.
“Para sineas dunia kini belajar dari Indonesia. Mereka melihat bagaimana kita memanfaatkan AI dengan tetap menjunjung nilai kemanusiaan dalam film,” kata Ben Makinen, sutradara asal Amerika sekaligus penyelenggara festival.
AI telah membuka peluang besar bagi kemajuan industri film Indonesia. Namun, seperti ditegaskan para pelaku kreatif, teknologi hanyalah alat. Sentuhan manusia—rasa, emosi, dan intuisi—tetap menjadi kunci utama dalam menciptakan karya yang hidup.
Dengan keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan, bukan mustahil jika suatu hari film Indonesia benar-benar bisa berdiri sejajar dengan Hollywood. (Hst).
Sumber Berita : CNBC INDONESIA















