POROSJAMBIMEDIA.COM – Tidak semua Naskah Kuno di Nusantara yang juga disebut oleh masyarakat lokal seperti di kerinci sebagai Tambo ini selalu dalam keadaan utuh. Itu bisa dimaklumi mengingat usianya yang cukup tua, ditambah lagi faktor iklim dan faktor lainnya yang membuat naskah ini menjadi usang dan bahkan ada yang hilang.
Seperti halnya Tambo yang Disimpan oleh Depati Sigumi Putih Koderat (Dusun Balai – Semurup).
Tambo yang diberi tanda Tambo Kerinci (TK.146) ini menerangkan :
Buku daripada daun lontar 60 helai, ditulisi dengan huruf Jawa lama. Gambar lagi diperiksa oleh tuan Dr. Poerbatjaraka di Betawi. Isinya beberapa ilmu agama Islam, di antaranya Kitab Seribu Mas’alah. Bahasanya sebagian bahasa Melayu, sebagian Bahasa ‘Arab dan barangkali ada juga bahasa Jawa.
Menurut Rusdi Fachrizal [Gelar Sigumi Putih Qudrat], saat ini Tambo tersebut sudah tidak ditemukan lagi di Umah Gedang. Bahkan lewat diskusi Group WhatsApp Majelis Peduli Adat Sakti Alam Kerinci (PASAK), Jumat (8/8), Rusdi Fachrizal sempat menanyakan tentang hal ini kepada Prof. Uli Kozok, Seorang sejarawan, filolog dan paleograf kelahiran Jerman.
“sampai kini kami tidak tahu keberadaannya… Cerita yg orang tua2 dengar, kitab itu terbuat dari daun (lontar / Daluang?), dulu dibawa untuk diteliti (tidak jelas dibawa ke Batavia,inggris atau Belanda?)” Sebutnya.
apa yang ditanyakan oleh Rusdi Fachrizal ditanggapi langsung oleh Prof Uli Kozok.
“Setahu saya, satu-satunya orang yang pernah meneliti naskah Kerinci adalah Voorhoeve, dan dia tidak pernah membawa naskah ke Jawa atau ke Belanda. Jumlah naskah Kerinci di luar negeri sangat sedikit. Setahu saya, tidak sampai sepuluh. Kalau di Jerman misalnya, naskah dari Indonesia ada ribuan. Kalau Kerinci, nol.” Terang, Prof. Uli Kozok.
Menyambung apa yang diterangkan oleh Prof Uli Kozok, Rusdi Fachrizal mengatakan, berdasarkan cerita tetua bahwa kitab tersebut dibawa itu adalah jawaban mudah untuk memutus ataupun menutup keinginan anak cucu untuk mencari keberadaan kitab tersebut.
“Bisa jadi kitab tersebut sudah hilang karena rusak, disembunyikan ataupun disimpan oleh seseorang…
Ini PR kami lebih lanjut” kata Rusdi Fachrizal.
Selanjutnya Apa yang ditanyakan dan disampaikan oleh Rusdi Fachrizal (Sigumi Putih Qudrat) kepada Uli Kozok lewat diskusi Group (PASAK) tersebut berlanjut. Prof Uli Kozok menerangkan bahwa Yang di (TK) hampir semua disalin oleh Voorhoeve dan isterinya dengan bantuan Guru Hamid ketika mereka berada di Kerinci. Lalu ada juga naskah yang difoto, dan dikemudian hari di alih aksarakan di Pematang Siantar, tempat tinggal Voorhoeve, oleh Voorhoeve dan Guru Hamid yang ikut sama Voorhoeve ke Siantar.
“Saya tahu seluk beluknya karena saya masih sempat kenal dan kerjasama dengan Voorhoeve. Voorhoeve masih sempat menggendong anak saya, padahal usia mereka berbeda 92 tahun!” Sebut uli Kozok.
Sementara itu, Iwan Setio [Pecinta Adat, Budaya dan sejarah Kerinci) menyebutkan, Sejauh informasi yang ia dapatkan, naskah asli Kerinci yang pernah dibawa keluar antara lain pada saat perang Kerinci Th1903, ada beberapa naskah kuno diambil (mungkin lebih tepatnya dirampas karena situasi perang) dan diserahkan oleh H. K. Manupasak ke sebuah lembaga di Batavia.
“Mungkin inilah naskah-naskah yang dalam buku [Tambo Kerintji] disebut Surat yang disimpan di (Gedung Arca Batavia). Selain itu juga ada naskah asli lontar dari Hiang (sudah ditransliterasi oleh Purbacaraka) yang dikirim oleh Controleur Morison untuk diteliti di Batavia sekitar pertengahan dekade 1930an. Diluar itu ada juga beberapa salinan naskah (kemungkinan dari Seleman dan Sanggaran Agung) yang dikirim ke Batavia, tp tdk tahu kapan waktunya. Bisa jadi ini dikumpulkan saat kunjungan Schreke ke Krc thn 1929” Sebut Iwan setio.















