Jakarta,Porosjambimedia.com– Peta politik kawasan Arktik kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan niatnya untuk menguasai Greenland. Pulau otonom milik Denmark itu dinilai Washington memiliki posisi strategis dan kekayaan mineral yang penting bagi kepentingan keamanan nasional AS.
Merespons wacana tersebut, sejumlah negara anggota NATO bergerak cepat. Prancis, Swedia, Jerman, dan Norwegia mengumumkan pengiriman personel militer ke ibu kota Greenland, Nuuk, untuk menjalankan misi pengintaian. Aktivitas militer di wilayah tersebut diperkirakan meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Wakil Perdana Menteri Greenland, Mute Egede, menyebut kehadiran pasukan NATO akan disertai latihan rutin. “Akan ada lebih banyak penerbangan dan kapal militer di wilayah kami. Ini bagian dari penguatan pengawasan di kawasan Arktik,” ujarnya dalam konferensi pers.
• Belanda Ikut Ambil Bagian
Tak hanya empat negara itu, Belanda juga memutuskan terlibat dalam operasi bersama NATO. Menteri Pertahanan Belanda Rubens Brekelmans menegaskan bahwa Arktik memiliki arti vital bagi stabilitas aliansi.
“Keamanan Greenland adalah bagian dari keamanan kolektif NATO. Karena itu Belanda turut mengirim perwira angkatan laut untuk mendukung misi pengintaian,” kata Brekelmans.
Langkah ini diambil setelah pertemuan antara pejabat AS, Denmark, dan Greenland di Washington belum menghasilkan titik temu. Ketidaksepakatan mendasar mengenai masa depan pulau tersebut membuat negara-negara Eropa memilih meningkatkan kesiagaan.
•Gedung Putih Tegaskan Ambisi Trump
Meski tekanan internasional meningkat, pemerintahan Trump bergeming. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa pengerahan pasukan NATO tidak akan memengaruhi rencana presiden.
“Tujuan Presiden Trump tetap sama, yakni mengakuisisi Greenland demi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat,” tegas Leavitt.
Ia juga mengungkapkan telah dibentuk kelompok kerja antara AS, Denmark, dan perwakilan Greenland untuk membahas aspek teknis rencana tersebut. Pertemuan lanjutan dijadwalkan berlangsung rutin setiap beberapa minggu.
• Denmark: Rencana AS Langgar Kedaulatan
Pemerintah Denmark merespons keras sikap Washington. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen menyebut keinginan AS mengambil alih Greenland sebagai langkah yang mustahil dan bertentangan dengan hukum internasional.
“Greenland adalah bagian dari Kerajaan Denmark. Gagasan untuk menguasainya melanggar prinsip kedaulatan dan tidak dapat diterima,” ujarnya.
Pernyataan ini mempertegas sikap Kopenhagen yang menolak segala bentuk intervensi terhadap wilayah otonom tersebut. Namun di sisi lain, Gedung Putih terus menekankan bahwa Greenland memiliki nilai strategis bagi pertahanan Amerika di kawasan utara.
Ketegangan diplomatik ini menandai babak baru perebutan pengaruh di Arktik, wilayah yang semakin penting seiring perubahan iklim dan terbukanya jalur ekonomi baru. (Dta)















