Jakarta, Porosjambimedia.com – Ketegangan diplomatik mencuat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai meremehkan peran pasukan NATO, khususnya tentara Inggris, dalam perang Afghanistan. Pemerintah Inggris menyebut komentar tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga melukai perasaan keluarga prajurit yang gugur di medan tempur.
Dalam wawancara dengan Fox News yang disiarkan Kamis lalu, Trump menyatakan bahwa pasukan NATO tidak berada di garis depan pertempuran di Afghanistan. Ia bahkan menegaskan keyakinannya bahwa aliansi NATO tidak akan memberikan bantuan nyata kepada Amerika Serikat saat dibutuhkan.
Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras dari London. Pasalnya, Inggris kehilangan 457 tentaranya selama misi militer di Afghanistan pasca-serangan teror 11 September 2001. Data resmi pemerintah Inggris mencatat sebagian besar korban tewas akibat aksi militer langsung di medan perang.
Menteri Kesehatan Inggris, Stephen Kinnock, menilai komentar Trump sebagai pernyataan yang tidak berdasar dan sangat mengecewakan. Ia menyebut Perdana Menteri Keir Starmer hampir pasti akan membahas isu tersebut secara langsung dengan Trump.
Menurut Kinnock, fakta sejarah menunjukkan Inggris dan negara-negara sekutu NATO lainnya justru memberikan dukungan penuh kepada Amerika Serikat. Bahkan, aktivasi Pasal 5 NATO—yang menjadi simbol solidaritas pertahanan kolektif—hanya pernah dilakukan sekali, yakni untuk membantu AS setelah tragedi 11 September.
Kritik serupa disampaikan Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Inggris, Emily Thornberry. Ia menyebut pernyataan Trump sebagai bentuk penghinaan terbuka terhadap ratusan keluarga tentara Inggris yang kehilangan orang tercinta di Afghanistan.
Selain Inggris, sejumlah negara NATO seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Denmark juga mencatat korban jiwa dalam konflik tersebut. Sementara itu, Amerika Serikat sendiri kehilangan lebih dari 2.400 personel militer selama perang berlangsung. (Dta)















