Banjir Lahar Semeru : Aliran Maut yang Menyamakan Segalanya dengan Tanah

- Redaksi

Minggu, 23 November 2025 - 09:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Porosjambimedia.com – Malam Minggu, 29 Agustus 1909, menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah letusan Gunung Semeru.

Para pekerja dari Pasuruan yang tengah memperbaiki jalur rel dan tanggul di sekitar Kali Besuk tidak pernah menyangka bahwa rutinitas mereka akan berubah menjadi tragedi besar.

Awalnya, suasana di kaki Semeru tampak tenang. Namun memasuki tengah malam, dentuman keras menghancurkan keheningan. Dari puncak gunung, asap pekat membubung tinggi—tanda letusan baru saja terjadi. Para kuli belum sempat memahami apa yang sedang berlangsung ketika suara teriakan dari tepi kali memecah kepanikan.

Dari arah hulu, muncul gelombang lahar berwarna gelap yang meluncur dengan kecepatan luar biasa. Campuran lumpur panas, pasir, batu, pohon tumbang, dan puing bangunan menerjang kawasan sekitar jembatan hanya dalam hitungan detik.

“Seperti tembok air besar yang datang menyapu,” ungkap seorang pekerja kepada De Locomotief (3 September 1909).

Arus itu menghancurkan apa pun yang dilewatinya. Pohon-pohon raksasa terseret dan menghantam jembatan. Rumah di bantaran sungai hilang tanpa jejak. Rel kereta ambruk dan bantalan besi tertimbun material vulkanik.

Baca Juga :  Rapat Paripurna IV DPRD Kota Sungai Penuh: Penyampaian Pandangan Akhir Fraksi dan Rekomendasi LKPJ 2025

Sekitar 30 kuli beruntung menemukan sebidang daratan kecil yang selamat dari terjangan. Di sana mereka bertahan semalaman, menggigil dalam basah dan gelap, tanpa bisa melihat apa pun selain suara hantaman kayu dan gulungan lumpur yang terus mengamuk.

“Tak ada malam yang lebih membuat kami takut,” kenang salah seorang penyintas.

Pada pagi harinya, saat air mulai surut, luasnya kehancuran baru terlihat jelas. Lahan kosong menggantikan permukiman, rel kereta terputus, dan korban jiwa ditemukan di berbagai titik.

Laporan De Locomotief (6 September 1909) menjelaskan bahwa letusan besar pada 29–30 Agustus 1909 memicu meluapnya material vulkanik dari kawah Semeru. Lahar panas turun dalam volume masif, menciptakan banjir destruktif yang oleh para kuli disamakan dengan “tsunami”, meski secara ilmiah merupakan banjir lahar akibat aktivitas vulkanik.

Kerusakan yang ditinggalkan sungguh besar. Perkebunan tebu dan tembakau habis. Ribuan hektare sawah tertutup pasir atau kehilangan suplai air karena irigasi hancur. Jalan utama tidak dapat dilalui. Persediaan pangan dan ternak musnah.

Baca Juga :  DPR Temukan Empat Isu Krusial dalam Penanganan Pascabencana di Aceh

Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië (9 September 1909) mencatat lebih dari 1.000 hektare sawah tertimbun, sementara 8.000 hektare lainnya rusak karena saluran air hilang.

Laporan Dagblad van Noord-Brabant (29 September 1909) bahkan menyebut lebih dari 709 orang tewas atau hilang, dengan ribuan lainnya luka-luka dan kehilangan tempat tinggal.

Lebih dari seabad kemudian, erupsi Semeru pada Rabu (19/11) kembali mengingatkan bahwa gunung ini menyimpan potensi bahaya yang tak bisa diremehkan. Tragedi 1909 menjadi pengingat penting bahwa mitigasi bencana bukan pilihan, melainkan kebutuhan. (Hst)

Sumber Berita : CNBC INDONESIA

Berita Terkait

Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, Ombudsman RI Pantau Layanan Penumpang di Bandara
Erupsi Anak Krakatau Picu Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Bakauheni
Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jakarta, BNPB Kerahkan Modifikasi Cuaca hingga Malam
Perkuat Penanganan Karhutla, Jambi Dapat Tambahan Helikopter Water Bombing dari Pemerintah Pusat
Agnez Mo Curi Perhatian di Serial Reacher, Penampilan Awet Muda Jadi Sorotan Penonton Dunia
Pemerintah Siapkan Rekonstruksi Rumah Korban Gempa NTT, Pendataan Jadi Prioritas
Hotspot Karhutla di Kalimantan Meningkat 4 Kali Lipat dalam Sehari
Korban Gempa M 7,7 di NTT Capai 83 Orang, Ribuan Warga Masih Terdampak
Berita ini 80 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB