Dapunta Hyang dan Legitimasi Kekuasaan dari Hulu ke Hilir

- Redaksi

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Safwandi., Dpt.  (Gelar, Kepalo Sembah )

Porosjambimedia.com – Kekuasaan yang Lahir dari Hulu Membaca Ulang Siddhayatra Dapunta Hyang dalam Ingatan Melayu–Asia Tenggara

Oleh banyak buku pelajaran, Sriwijaya kerap dikenang sebagai kerajaan maritim besar yang berjaya karena perdagangan dan penguasaan laut. Namun pembacaan semacam itu, meski tidak sepenuhnya salah, terasa terlalu dangkal. Ia mengabaikan satu hal mendasar dalam kosmologi dan filologi Melayu–Asia Tenggara: kekuasaan tidak pernah lahir dari hilir. Ia selalu bermula dari hulu.

Prasasti Kedukan Bukit (682 M) menyebut Dapunta Hyang melakukan siddhayatra. Selama ini istilah itu sering dipahami sebagai perjalanan politik atau ekspansi awal Sriwijaya. Padahal, dalam tradisi Asia Tenggara Kuno, siddhayatra adalah ritus pendirian kuasa, bukan perjalanan administratif.

Sejarawan O.W. Wolters, dalam kajiannya tentang Asia Tenggara awal, menyebut bahwa kekuasaan pada masa itu tidak dibangun lewat teritorialisme modern, melainkan melalui legitimasi sakral dan pengakuan kosmik. Raja bukan sekadar penguasa wilayah, melainkan simpul antara manusia, alam, dan kekuatan adikodrati. Dalam kerangka itu, perjalanan suci Dapunta Hyang bukanlah strategi dagang—melainkan penyusunan tatanan dunia.

Yang menarik, siddhayatra itu tidak dimulai dari pesisir. Ia bergerak dari wilayah hulu.

Hulu: Ruang Sakral, Bukan Sekadar Geografi

Dalam filologi Melayu–Asia Tenggara, “hulu” bukan sekadar penunjuk arah. Hulu adalah konsep kosmologis.

Antropolog Clifford Geertz pernah menyinggung bahwa dalam masyarakat Asia Tenggara, orientasi ruang selalu mengandung nilai moral dan politik. “Atas” tidak pernah netral; ia selalu diasosiasikan dengan asal, kesucian, dan legitimasi. Itulah sebabnya dalam banyak tradisi Melayu, hukum adat, silsilah, dan sumpah selalu dirujukkan ke hulu.

Baca Juga :  Lemahnya Tambo tutur yang dapat berujung pada kesesatan sejarah

Hulu sungai dipahami sebagai:

asal mula kehidupan, sumber hukum dan adat,serta pusat legitimasi kekuasaan.

Dengan demikian, sangat masuk akal jika Sriwijaya—yang kemudian dikenal sebagai kekuatan maritim—justru lebih dulu menata dirinya di pedalaman, di jaringan sungai besar seperti Batanghari dan Musi, hingga wilayah Kerinci. Pesisir bukan rahim kekuasaan, melainkan panggungnya.

Sejarawan Indonesia Slamet Muljana pernah mengingatkan bahwa Sriwijaya tidak dapat dilepaskan dari tradisi pedalaman Melayu Kuno. Sungai, bukan laut, adalah urat nadi awal peradaban. Laut datang kemudian, sebagai ruang ekspansi.

Hilir: Ruang Pengakuan, Bukan Kelahiran

Hilir memiliki fungsi penting dalam politik sungai Asia Tenggara. Ia adalah ruang perdagangan, diplomasi, dan interaksi global. Di sanalah Sriwijaya dikenal dunia luar—oleh pedagang India, Arab, dan Tiongkok.

Namun hilir bukan titik awal legitimasi. Tanpa penguasaan hulu, kekuasaan di muara hanyalah etalase tanpa fondasi.

Wolters menyebut pola ini sebagai mandala power: kekuasaan menguat dari pusat sakral, lalu memudar ke pinggiran. Jika pusatnya rapuh, seluruh struktur runtuh. Sriwijaya kuat justru karena ia memahami logika itu: mengamankan hulu terlebih dahulu, baru menguasai hilir.

Adat Melayu dan Ingatan yang Terus Hidup

Menariknya, logika ini tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Ia terus hidup dalam adat.

Ungkapan Melayu yang masih sering kita dengar—“rusak hulu, binasa hilir”—bukan sekadar peringatan ekologis. Ia adalah ingatan peradaban.

Dalam masyarakat adat Kerinci dan Melayu pada umumnya, hulu selalu dijaga bukan hanya demi air dan tanah, tetapi demi keseimbangan hidup. Ketika hulu rusak, bukan hanya sawah yang kering atau sungai yang surut—tetapi juga hukum adat, kewibawaan pemimpin, dan kepercayaan kolektif.

Baca Juga :  Penguatan Hukum Adat Kerinci Dinilai Mendesak Pasca Berlaku KUHP Nasional

Antropolog Tania Li pernah menegaskan bahwa bagi masyarakat adat Asia Tenggara, alam bukan objek eksploitasi, melainkan subjek relasi. Merusak sumber berarti memutus legitimasi sosial itu sendiri.

Refleksi Zaman Kini

Hari ini, kita menyaksikan krisis demi krisis: kerusakan hulu, konflik lahan, krisis air, hingga melemahnya otoritas adat. Semua itu sering dibahas sebagai masalah teknis atau kebijakan semata. Padahal, dalam kacamata sejarah panjang Melayu–Asia Tenggara, ini adalah krisis cara pandang.

 

Kita terlalu lama memulai dari hilir: dari pertumbuhan ekonomi, investasi, dan keramaian pasar. Kita lupa bahwa peradaban ini dulu dibangun dari kesunyian hulu.

 

Dapunta Hyang memahami sesuatu yang kini nyaris terlupakan:

 

bahwa kekuasaan yang sah tidak lahir dari tepuk tangan,

 

melainkan dari keseimbangan.

 

Ia disahkan di hilir,

 

namun dilahirkan di atas.

 

Dan selama hulu terus diabaikan—baik secara ekologis, adat, maupun simbolik—sejarah akan terus mengulang peringatannya dengan cara yang jauh lebih keras.

 

Karena dalam ingatan panjang Melayu–Asia Tenggara, satu hukum tak pernah berubah:

 

Ritus selalu bermula dari hulu, bukan dari muara.

 

Baik. Berikut tambahan metadata yang rapi dan siap dipakai untuk publikasi media, jurnal opini, atau portal kebudayaan:

Berita Terkait

Mubes Perdana Debalang Provinsi Jambi Digelar, Pengurus Kabupaten/Kota Satukan Komitmen Perkuat Marwah Adat
Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota
H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030
Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Amanah Adat dan Susunan Paramenti Jelang Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup
ISMI Kerinci–Sungai Penuh Resmi Dilantik, Bupati Monadi Dorong Penguatan Peradaban Melayu
FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci
IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat
Penyatuan Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Jadi Komitmen Bersama Alfin dan Monadi
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB