Jakarta, PorosJambiMedia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan tren penguatan usai mencetak rekor baru dalam beberapa pekan terakhir. Optimisme investor masih tinggi seiring derasnya arus dana asing dan solidnya fundamental ekonomi Indonesia.
Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menjelaskan bahwa pergerakan positif IHSG tidak lepas dari kombinasi faktor eksternal dan domestik.
“Rebalancing MSCI membuat dana asing masuk ke pasar modal Indonesia. Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi kuartal III sebesar 5,04 persen turut memperkuat optimisme investor,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Menurut Reydi, struktur investor domestik yang kini lebih dominan dibanding asing menjadi penopang penting di tengah volatilitas global. Dengan demikian, guncangan eksternal tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap IHSG.
Dari sisi sektoral, beberapa sektor utama masih menjadi pendorong utama penguatan indeks, di antaranya perbankan, telekomunikasi, logam, energi, dan konsumsi ritel. Kinerja positif emiten di sektor tersebut didukung oleh harga komoditas yang tinggi dan meningkatnya daya beli masyarakat menjelang akhir tahun.
“Selama arus dana asing tetap mencatatkan net buy dan investor domestik terus menopang, IHSG masih berpeluang bergerak bullish hingga akhir tahun,” tambahnya.
Koreksi Sejenak di Tengah Aksi Ambil Untung
Sebelumnya, IHSG sempat terkoreksi tipis pada perdagangan Selasa (11/11/2025) karena adanya aksi ambil untung setelah reli panjang. Berdasarkan data RTI, IHSG ditutup melemah 0,29% ke level 8.366,51, dengan nilai transaksi mencapai Rp 27,6 triliun.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai bahwa koreksi tersebut bersifat wajar.
“IHSG berada di area jenuh beli, sehingga sebagian pelaku pasar memilih untuk melakukan profit taking,” jelasnya.
Dari sisi data ekonomi, penjualan ritel tumbuh 3,7% secara tahunan (yoy) pada September 2025 — mencatat pertumbuhan positif selama enam bulan berturut-turut. Sementara penjualan mobil nasional masih turun 4,4% yoy, namun penurunannya melambat, menandakan mulai ada tanda perbaikan permintaan.
Dari faktor eksternal, pelaku pasar global mencermati potensi kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan Swiss serta rilis data harga grosir Jerman (Wholesale Prices) yang menunjukkan stabilitas inflasi di kawasan Eropa.
Dengan kombinasi faktor positif tersebut, analis memperkirakan IHSG masih memiliki ruang untuk melanjutkan reli, dengan target psikologis baru di atas level 8.400–8.500 dalam jangka pendek. (Hst)
Sumber Berita : Liputan6.com















