Jakarta, Porosjambimedia.com — Kinerja pasar saham Indonesia masih menunjukkan arah positif di bulan Oktober 2025. Meski tak terlalu spektakuler, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pertumbuhan stabil sebesar 1,28%, menutup bulan di level 8.163,88. Kenaikan ini memperpanjang tren positif IHSG yang sudah terjadi sejak pertengahan tahun.
Kinerja solid tersebut sebagian besar didorong oleh saham-saham milik konglomerat besar yang sukses mencatatkan penguatan signifikan. Namun, tidak semua grup usaha menikmati hasil serupa — beberapa saham justru terseret koreksi cukup dalam.
Saham Konglomerat yang Cuan di Oktober 2025
Euforia pasar di bulan Oktober turut mengangkat harga saham dari sejumlah perusahaan milik taipan Tanah Air. Sejumlah saham grup konglomerat berhasil menorehkan persentase kenaikan tertinggi (Top Gainers) di sektor masing-masing. Kinerja positif tersebut didorong oleh meningkatnya optimisme investor terhadap stabilitas ekonomi domestik dan kebijakan suku bunga yang cenderung menurun.
Selain faktor makroekonomi, sektor-sektor seperti perbankan, properti, dan energi menjadi pendorong utama pergerakan saham konglomerat sepanjang Oktober.
Saham Konglomerat yang Boncos di Oktober 2025
Namun, tidak semua saham konglomerat ikut berpesta. Sejumlah emiten besar justru harus puas dengan penurunan harga saham yang tajam. Faktor tekanan global, fluktuasi harga komoditas, hingga aksi ambil untung (profit taking) disebut menjadi penyebab utama pelemahan tersebut.
Meski begitu, analis menilai koreksi yang terjadi masih tergolong sehat dan membuka peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.
Prospek ke Depan
Memasuki kuartal akhir 2025, para analis memprediksi pergerakan saham konglomerat akan tetap menarik untuk diikuti. Dukungan dari proyek strategis pemerintah, belanja korporasi yang meningkat, serta pemulihan konsumsi masyarakat diprediksi akan menjadi katalis positif bagi IHSG hingga akhir tahun.
“Investor perlu selektif memilih saham konglomerat yang memiliki fundamental kuat, terutama yang mampu menjaga kinerja laba di tengah ketidakpastian global,” ungkap seorang analis pasar modal di Jakarta. (Hst)
Sumber Berita : CNBC INDONESIA















