Sebagian rusun di pesisir Jakarta Utara dinyatakan tak layak huni dan mulai dibongkar, sementara klaster lain menunggu revitalisasi.

- Redaksi

Sabtu, 31 Januari 2026 - 00:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Porosjambimedia.com– Kondisi Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) Marunda di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, kian memprihatinkan. Hunian vertikal yang telah lama menjadi tempat tinggal ratusan keluarga ini menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius akibat faktor usia bangunan dan lingkungan pesisir.

Rusunawa Marunda terdiri dari empat klaster, yakni A, B, C, dan D. Dari keempatnya, Klaster C menjadi yang paling parah hingga akhirnya dibongkar total. Sejak November 2025, lima blok di klaster tersebut diratakan setelah dinilai tidak lagi memenuhi standar kelayakan hunian. Bangunan itu bahkan telah ditinggalkan sejak 2023.

Keputusan pembongkaran merujuk pada hasil kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2021 yang menyebutkan struktur bangunan Klaster C tidak aman untuk dihuni. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian menjadikan hasil kajian tersebut sebagai dasar tindakan pembongkaran menyeluruh.

Pantauan di lokasi pada Rabu (28/1/2026) menunjukkan area bekas Klaster C kini telah menjadi lahan terbuka. Sebuah alat berat tampak masih beroperasi, sementara sisa puing bangunan belum sepenuhnya dibersihkan dari lokasi.

Baca Juga :  Mahasiswa yang Bermalam di Masjid Sibolga Tewas Dianiaya, Lima Pria Resmi Jadi Tersangka

Sementara itu, Klaster A, B, dan D masih berdiri dan tetap dihuni. Namun, kondisi Klaster A dan B menunjukkan degradasi bangunan yang cukup signifikan. Sejumlah dinding mengalami retakan, cat tembok mengelupas, serta lantai keramik pecah di berbagai titik.

Tak hanya itu, tanaman liar terlihat tumbuh di sela-sela dinding bangunan, bahkan ada yang menjalar hingga beberapa lantai. Suasana lembap di beberapa area juga memicu pertumbuhan lumut dan jamur hitam yang berpotensi membahayakan kesehatan penghuni.

Fasilitas penunjang pun mengalami kerusakan. Pegangan tangga dari besi terlihat berkarat, sementara beberapa unit kamar dikosongkan karena dianggap tidak lagi aman untuk ditempati.

Berbeda dengan klaster lainnya, Klaster D justru tampak lebih terawat. Cat dinding masih terlihat bersih, lantai keramik utuh, dan tidak ditemukan lumut maupun jamur yang mengganggu estetika maupun kenyamanan bangunan.

Kepala Satuan Penertiban Rusunawa Marunda, Ferengki Pakpahan, menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi merupakan konsekuensi dari usia pakai bangunan.

Baca Juga :  Target 2032, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Percepat Realisasi PLTN 500 MW

“Bangunan itu ada masa pakainya. Klaster C sudah melewati batas sehingga harus dibongkar. Klaster A dan B juga mulai menunjukkan kerusakan di beberapa titik,” ujar Ferengki.

Ia menambahkan bahwa pengelola masih melakukan perawatan rutin di klaster yang masih dihuni, termasuk perbaikan unit yang mengalami kebocoran. Ke depan, Klaster A dan B direncanakan akan direvitalisasi menyusul pembangunan ulang Klaster C yang akan dijadikan tower rusun setinggi 20 lantai.

Namun demikian, jadwal revitalisasi Klaster A dan B masih menunggu hasil kajian teknis lanjutan dari para ahli bangunan. Pemerintah daerah disebut tidak ingin mengambil risiko terhadap keselamatan penghuni. (Khy)

Berita Terkait

Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, Ombudsman RI Pantau Layanan Penumpang di Bandara
Erupsi Anak Krakatau Picu Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Bakauheni
Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jakarta, BNPB Kerahkan Modifikasi Cuaca hingga Malam
Perkuat Penanganan Karhutla, Jambi Dapat Tambahan Helikopter Water Bombing dari Pemerintah Pusat
Agnez Mo Curi Perhatian di Serial Reacher, Penampilan Awet Muda Jadi Sorotan Penonton Dunia
Pemerintah Siapkan Rekonstruksi Rumah Korban Gempa NTT, Pendataan Jadi Prioritas
Hotspot Karhutla di Kalimantan Meningkat 4 Kali Lipat dalam Sehari
Korban Gempa M 7,7 di NTT Capai 83 Orang, Ribuan Warga Masih Terdampak
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB