Jakarta, Porosjambimedia.com– Perseteruan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak dan kini bergulir hingga ruang sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Adu argumen keras terjadi setelah kedua negara saling melempar tuduhan terkait gelombang demonstrasi yang mengguncang sejumlah kota di Iran.
Ketegangan bermula dari aksi protes anti-pemerintah di Iran yang oleh Teheran disebut sebagai hasil rekayasa kekuatan asing. Pemerintah Iran menilai Washington dan sekutunya berada di balik kerusuhan yang menimbulkan korban jiwa tersebut. Tuduhan itu dibantah keras oleh Amerika Serikat.
Situasi semakin panas ketika Washington menyatakan tidak menutup kemungkinan mengambil langkah tegas apabila kondisi di Iran memburuk. Pernyataan itu dianggap sebagai ancaman terbuka oleh Teheran dan memicu reaksi keras di tingkat diplomatik.
Sebagai langkah antisipasi, otoritas Iran sempat memberlakukan pembatasan ketat pada wilayah udaranya. Seluruh penerbangan non-sipil ditangguhkan, sementara penerbangan internasional hanya diizinkan dengan persetujuan khusus dari otoritas setempat. Kebijakan ini disebut sebagai upaya menjaga keamanan nasional di tengah situasi tidak menentu.
*Adu Mulut di Forum Internasional*
Perdebatan memuncak dalam rapat DK PBB yang membahas perkembangan di Iran. Perwakilan Amerika Serikat menegaskan bahwa tuduhan konspirasi asing tidak berdasar dan hanya upaya pemerintah Iran mengalihkan perhatian dari tuntutan rakyatnya.
Duta Besar AS, Mike Waltz, menyatakan bahwa rezim Iran berada dalam posisi lemah sehingga memilih menyalahkan pihak luar. Ia menegaskan dukungan Washington terhadap warga Iran dan menyebut semua opsi masih terbuka untuk menghentikan kekerasan terhadap demonstran.
Di sisi lain, Wakil Duta Besar Iran, Gholamhossein Darzi, menilai pernyataan AS sarat kebohongan dan distorsi. Menurutnya, Washington secara sistematis mendorong kerusuhan demi melemahkan kedaulatan Iran.
Darzi juga mengingatkan bahwa Iran tidak menghendaki konfrontasi, namun akan memberikan respons tegas dan proporsional terhadap setiap bentuk agresi, baik langsung maupun tidak langsung.
Dari kubu lain, Rusia melalui Dutanya Vassily Nebenzia menuding Amerika Serikat memanfaatkan forum PBB untuk melegitimasi intervensi terhadap negara berdaulat. Moskow menilai langkah itu berpotensi memperlebar konflik di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan seluruh pihak menahan diri. Ia memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memicu krisis regional yang lebih luas dan menelan lebih banyak korban sipil.
Hingga kini, hubungan Iran dan AS masih berada pada titik rawan. Komunitas internasional khawatir perang kata-kata di forum diplomatik dapat berubah menjadi konfrontasi terbuka apabila tidak ada upaya dialog yang serius. (Dta)















