Jakarta, Porosjambimedia.com – Situasi politik di Iran kembali memanas seiring munculnya gelombang protes di berbagai kota besar. Di balik aksi yang tampak sebagai tuntutan ekonomi dan kebebasan sipil, muncul dugaan kuat adanya keterlibatan kepentingan asing, khususnya Amerika Serikat dan Israel, melalui operasi intelijen yang terstruktur.
Hubungan Washington–Teheran yang sejak lama diliputi kecurigaan kini memasuki babak baru. Pemerintahan AS di bawah Donald Trump disebut kembali menghidupkan strategi tekanan maksimum terhadap Iran. Langkah itu tidak hanya berupa sanksi ekonomi, tetapi juga pengerahan aset militer di Timur Tengah serta operasi siber yang menyasar infrastruktur vital Iran.
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa AS tengah menyiapkan berbagai skenario untuk melemahkan posisi pemerintah Iran tanpa harus terlibat perang terbuka. Kampanye informasi, dukungan terhadap kelompok oposisi, hingga aktivitas intelijen disebut menjadi instrumen utama. Tujuannya adalah menciptakan tekanan internal agar stabilitas politik Teheran terguncang.
Di sisi lain, Israel ditengarai memainkan peran penting melalui badan intelijennya, Mossad. Tel Aviv dikabarkan memilih bergerak di balik layar dengan memanfaatkan jaringan spionase yang telah lama dibangun di Iran. Pemerintah Iran menuduh sejumlah aksi sabotase terhadap fasilitas strategis, termasuk sektor nuklir, merupakan hasil operasi rahasia Israel.
• Protes Ekonomi yang Berubah Jadi Arena Politik
Demonstrasi yang terjadi beberapa bulan terakhir awalnya dipicu oleh krisis ekonomi. Nilai mata uang rial merosot tajam, inflasi melonjak, dan daya beli masyarakat anjlok. Kondisi tersebut memicu kekecewaan publik terhadap kebijakan pemerintah.
Namun otoritas Iran menilai protes tersebut tidak lagi murni gerakan rakyat. Teheran menuding adanya penyusupan kelompok bersenjata serta kampanye propaganda dari luar negeri yang sengaja memanaskan situasi. Aparat keamanan melaporkan terjadinya serangan terhadap fasilitas negara dan personel keamanan.
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran mengeksekusi seorang warga yang dituduh sebagai mata-mata Mossad. Pemerintah menyatakan telah menangkap sejumlah agen asing yang berupaya mengumpulkan informasi sensitif. Menurut pejabat Iran, aktivitas intelijen Israel meningkat tajam sejak serangkaian serangan terhadap fasilitas nuklir tahun lalu.
Di beberapa provinsi, bentrokan antara aparat dan kelompok bersenjata tak terhindarkan. Pemerintah menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bagian dari kebebasan berpendapat, melainkan operasi teror terkoordinasi yang bertujuan menggoyang legitimasi negara.
• Respons Keras Pemerintah Iran
Presiden Masoud Pezeshkian secara terbuka menuduh AS bersikap munafik dengan mengatasnamakan demokrasi untuk menekan Iran. Ia menyebut sanksi ekonomi sebagai bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan karena menyengsarakan rakyat biasa.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bahkan menyebut para demonstran yang melakukan kekerasan sebagai alat musuh asing. Ia menegaskan Republik Islam tidak akan tunduk pada intimidasi eksternal.
Retorika serupa disampaikan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang mengancam akan menjadikan pangkalan AS dan Israel sebagai target jika terjadi agresi militer terhadap Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan eskalasi politik telah memasuki tahap sangat berbahaya.
• Mossad dan Perang Bayangan
Sejumlah pengamat menilai konflik Iran–Israel selama ini lebih banyak berlangsung dalam bentuk perang bayangan. Operasi sabotase, pembunuhan ilmuwan, dan serangan siber menjadi pola yang berulang.
Buku Mossad: The Greatest Missions of the Israeli Secret Service karya Michael yang dimana Bar-Zohar dan Nissim Mishal menggambarkan bagaimana badan intelijen Israel telah lama menyasar program nuklir Iran. Metode infiltrasi dan HUMINT disebut menjadi kunci keberhasilan berbagai operasi rahasia.
Kini, dengan memanasnya protes domestik, perang bayangan tersebut seolah menemukan medan baru. Dukungan terbuka tokoh diaspora Iran yang dekat dengan Barat semakin menguatkan kecurigaan Teheran bahwa skenario perubahan rezim tengah disiapkan.
• Masa Depan yang Penuh Ketidakpastian
Pertarungan kepentingan antara Iran, AS, dan Israel menunjukkan bahwa konflik modern tak lagi hanya mengandalkan kekuatan militer. Operasi intelijen, propaganda digital, dan tekanan ekonomi menjadi senjata yang sama mematikannya.
Bagi Iran, mempertahankan kedaulatan di tengah intervensi asing adalah prioritas utama. Sementara bagi Washington dan Tel Aviv, melemahkan pengaruh Teheran dianggap kunci untuk membentuk ulang peta keamanan Timur Tengah.
Apapun yang terjadi, gejolak di Iran bukan sekadar persoalan domestik, melainkan bagian dari pertarungan geopolitik global yang dampaknya dapat meluas jauh melampaui kawasan.(Dta)















