Jakarta, Porosjambimedia.com – Retakan serius muncul dalam hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman, menandai fase paling genting sejak kedua negara memimpin koalisi militer melawan kelompok Houthi hampir satu dekade lalu. Gelombang serangan udara Arab Saudi sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 mengungkap perbedaan kepentingan yang selama ini tersembunyi di balik musuh bersama.
Ketegangan memuncak ketika jet tempur Saudi menggempur wilayah yang dikuasai Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), kelompok separatis Yaman selatan yang selama ini dikenal dekat dengan UEA. Serangan itu menjadi sinyal bahwa Riyadh kini memandang STC bukan sekadar mitra taktis, melainkan ancaman strategis.
Puncak eskalasi terjadi pada 2 Januari 2026 saat serangan udara menghantam Al-Khashaa di Provinsi Hadramaut. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi ini memiliki nilai strategis tinggi. Laporan media internasional menyebutkan korban jiwa dan puluhan luka-luka akibat serangan tersebut. Pimpinan STC di Hadramaut menuding Saudi secara langsung menargetkan posisi pasukan mereka.
Tak lama berselang, Pelabuhan Mukalla ikut diserang. Riyadh menuduh pelabuhan itu menjadi jalur masuk persenjataan STC yang diklaim berasal dari UEA—tuduhan yang dibantah keras oleh Abu Dhabi. Langkah ini menandai perubahan signifikan: untuk pertama kalinya Saudi secara terbuka menyerang kelompok yang secara formal masih berada di dalam kubu anti-Houthi.
Hadramaut sendiri bukan sekadar provinsi terluas di Yaman. Kawasan ini kaya minyak, strategis secara geografis, serta memiliki ikatan historis dan kultural dengan Arab Saudi. Banyak elite Saudi diketahui memiliki akar keluarga dari wilayah tersebut, menjadikan stabilitas Hadramaut sebagai kepentingan vital bagi kerajaan.
Ketika STC berhasil menguasai Hadramaut dan Al-Mahra pada awal Desember 2025—dua provinsi yang mencakup hampir setengah wilayah Yaman—Riyadh melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan perbatasannya. Ambisi STC untuk membangun negara Yaman selatan yang merdeka dinilai berpotensi menciptakan zona instabilitas permanen di selatan Saudi.
Bentrokan berlanjut di Kota Mukalla pada 3 Januari 2026. Serangan udara menghantam markas pasukan STC, sementara kelompok bersenjata lokal yang loyal kepada pemerintah Yaman mengklaim merebut kembali sejumlah lokasi strategis. Pemerintah Yaman menyatakan pasukan nasional kini bergerak mengamankan wilayah pesisir Hadramaut, menandai upaya konsolidasi kekuasaan yang didukung Riyadh.
Di tengah eskalasi militer, Arab Saudi juga melancarkan langkah politik. Riyadh menyerukan dialog dengan faksi-faksi selatan untuk merumuskan solusi “adil dan komprehensif” bagi persoalan Yaman selatan. Namun, seruan ini dibayangi oleh bom dan serangan udara, sehingga efektivitasnya dipertanyakan.
Situasi makin rumit ketika STC mendeklarasikan konstitusi sementara pembentukan “Negara Arab Selatan”. Dokumen tersebut memproyeksikan masa transisi dua tahun sebelum referendum kemerdekaan. Pemerintah Yaman menolak deklarasi itu dan menegaskan kembali komitmen pada persatuan nasional.
Retaknya hubungan Saudi-UEA sejatinya merupakan akumulasi perbedaan strategi sejak awal perang Yaman. Saudi fokus menjaga keutuhan negara Yaman melalui dominasi udara, sementara UEA membangun pengaruh darat melalui jaringan milisi lokal di selatan. Perbedaan ini kini berubah menjadi konfrontasi terbuka.
Dinamika tersebut mencerminkan apa yang disebut ilmuwan hubungan internasional Robert Jervis sebagai security dilemma. Langkah yang dianggap defensif oleh satu pihak sering ditafsirkan sebagai ancaman oleh pihak lain, memicu spiral konflik yang sulit dihentikan. Di Yaman, spiral ini tidak hanya mengancam persatuan negara, tetapi juga stabilitas kawasan Teluk secara keseluruhan. (Dta)















