Jakarta, Porosjambimedia.com – Amerika Serikat tengah dilanda wabah influenza besar yang mencatatkan angka kasus tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Hampir seluruh negara bagian kini masuk kategori aktivitas flu tinggi hingga sangat tinggi, menandai salah satu musim flu paling berat sejak akhir 1990-an.
Lonjakan ini dikaitkan dengan meluasnya penyebaran varian baru influenza A (H3N2) subclade K, yang oleh sejumlah pakar dijuluki sebagai “super flu” karena kemampuannya menembus kekebalan tubuh.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), kunjungan medis akibat gejala mirip influenza—seperti demam, batuk, dan nyeri tenggorokan—mencapai titik tertinggi sejak musim flu 1997–1998. Pada pekan terakhir tahun lalu, sekitar 8,2 persen kunjungan layanan kesehatan secara nasional berkaitan dengan penyakit mirip flu, meningkat tajam dibandingkan musim sebelumnya yang berada di angka 6,7 persen.
Ahli epidemiologi dari Johns Hopkins Center for Health Security, Dr Caitlin Rivers, menyebut situasi saat ini sebagai kondisi yang sangat jarang terjadi. Ia menegaskan bahwa sebagian besar wilayah AS masih berada di fase puncak penularan.
Lonjakan kasus ini dinilai tidak biasa karena terjadi setelah musim flu sebelumnya yang juga tergolong berat. Umumnya, musim flu parah tidak muncul secara berturut-turut dalam dua tahun.
Di beberapa negara bagian, termasuk Massachusetts, tekanan terhadap sistem layanan kesehatan semakin terasa. Rumah sakit melaporkan lonjakan pasien flu dengan kondisi berat, termasuk pada anak-anak. Komisioner Kesehatan Publik Massachusetts, dr Robbie Goldstein, mengingatkan bahwa influenza bukan penyakit sepele dan dapat berujung pada komplikasi serius hingga kematian.
CDC memperkirakan sekitar 11 juta orang telah terinfeksi flu musim ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 120 ribu pasien harus dirawat di rumah sakit dan kurang lebih 5.000 orang meninggal dunia, termasuk sembilan anak. Meski tingkat rawat inap kumulatif saat ini menjadi yang ketiga tertinggi sejak 2010, para ahli memperingatkan angka tersebut masih berpotensi bertambah karena penularan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Para pakar menilai, subclade K memiliki perbedaan genetik yang cukup signifikan dibandingkan strain sebelumnya, sehingga virus lebih mampu menghindari respons imun, bahkan pada individu yang pernah terinfeksi flu di musim-musim lalu. Selain itu, varian ini mulai menyebar setelah komposisi vaksin flu musim ini ditetapkan, sehingga efektivitas vaksin terhadap varian tersebut diperkirakan tidak maksimal, meski tetap mampu menekan risiko sakit berat dan kematian.
Di tengah situasi ini, para ahli kesehatan tetap menganjurkan masyarakat untuk melakukan vaksinasi flu. Direktur Center for Infectious Disease Research and Policy University of Minnesota, Dr Michael Osterholm, menegaskan bahwa vaksinasi masih menjadi perlindungan terbaik untuk mengurangi dampak terburuk flu, dengan catatan tubuh memerlukan waktu sekitar satu hingga dua pekan untuk membentuk kekebalan.
Namun, data CDC menunjukkan tren penurunan cakupan vaksinasi flu, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Dengan aktivitas flu yang diperkirakan masih berlangsung selama beberapa minggu ke depan, kewaspadaan, vaksinasi, serta penerapan langkah pencegahan dasar dinilai krusial untuk menekan dampak wabah influenza terburuk dalam 25 tahun terakhir ini.















