Jakarta, Porosjambimedia.com – Munculnya lonjakan kasus influenza di sejumlah negara akibat varian baru Influenza A (H3N2) subclade K memunculkan kekhawatiran publik akan potensi pandemi berikutnya pasca COVID-19. Istilah “super flu” pun ramai diperbincangkan karena dianggap memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dibandingkan flu musiman biasa.
Namun, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa kondisi saat ini belum mengarah pada situasi pandemi global.
“Berdasarkan perkembangan yang ada sekarang, fenomena ini lebih mengarah pada gelombang flu yang lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Belum bisa disebut sebagai pandemi,” ujar Prof. Tjandra dalam keterangannya, Kamis (1/1/2026).
Tiga Faktor Penentu Menuju Pandemi
Prof. Tjandra menjelaskan bahwa penilaian suatu wabah menjadi pandemi tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Ada tiga faktor utama yang harus terjadi secara bersamaan.
Pertama, terjadinya mutasi besar yang membuat virus menjadi benar-benar baru dan berbeda secara signifikan dari varian sebelumnya. Kedua, peningkatan drastis penularan yang disertai tingkat keparahan lebih tinggi, sehingga berdampak besar pada sistem kesehatan. Ketiga, penyebaran global lintas negara yang masif dan sulit dibendung.
“Jika ketiga unsur ini tidak muncul bersamaan, maka peluangnya menjadi pandemi relatif kecil,” jelasnya.
H3N2 Bukan Virus Baru
Menurut Prof. Tjandra, virus H3N2 bukanlah patogen baru. Virus ini telah lama dikenal sebagai salah satu penyebab flu musiman dan pernah memicu lonjakan besar influenza pada tahun 1968.
Lonjakan kasus influenza yang terjadi pada akhir 2025 di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Jepang, serta kemungkinan di Malaysia dan Thailand, juga disebabkan oleh virus H3N2. Perbedaannya, saat ini varian tersebut telah berkembang menjadi subclade K, yang dilaporkan mengalami sekitar tujuh kali mutasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak November 2025 mencatat bahwa subclade K menyebar dengan cepat dan mendominasi kasus influenza di sejumlah negara belahan bumi utara.
Lonjakan Kasus Influenza Global
Data terbaru dari Amerika Serikat per 30 Desember 2025 menunjukkan aktivitas influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian, meningkat signifikan dari pekan sebelumnya yang tercatat di 17 negara bagian.
Jumlah pasien influenza yang dirawat di rumah sakit melonjak menjadi 19.053 orang, hampir dua kali lipat dari minggu sebelumnya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) juga melaporkan sekitar 3.100 kematian akibat influenza pada musim flu kali ini, termasuk peningkatan kasus kematian pada anak.
Sebagian besar kasus influenza tersebut diketahui disebabkan oleh virus H3N2, yang kuat diduga didominasi oleh subclade K.
Imbauan Tetap Waspada
Meski belum mengarah ke pandemi, Prof. Tjandra mengingatkan masyarakat dan pemerintah untuk tetap waspada, memperkuat surveilans penyakit, serta meningkatkan cakupan vaksinasi influenza, terutama bagi kelompok rentan.
“Kewaspadaan penting, tetapi kepanikan tidak diperlukan,” pungkasnya. (Hst)















