Jakarta, Porosjambimedia.com -Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan uji ketahanan fiskal terhadap berbagai kemungkinan perubahan kondisi ekonomi global, termasuk kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar.
Menurutnya, setiap kenaikan US$ 1 pada Indonesian Crude Price berpotensi menambah defisit anggaran negara hingga sekitar Rp 6,8 triliun. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah sebesar Rp 100 terhadap dolar Amerika Serikat dapat menambah tekanan terhadap defisit sekitar Rp 0,8 triliun.
Ia juga menjelaskan bahwa kenaikan yield obligasi sebesar 0,1 persen dapat meningkatkan beban pembiayaan negara sekitar Rp 1,9 triliun. Meski begitu, hasil simulasi yang dilakukan pemerintah menunjukkan defisit masih dapat dijaga di bawah batas aman.
Pemerintah juga memperkuat strategi pembiayaan dengan melakukan diversifikasi sumber pendanaan. Salah satunya melalui penerbitan obligasi global dalam mata uang selain dolar Amerika Serikat.
Baru-baru ini, Kementerian Keuangan Republik Indonesia menerbitkan obligasi global senilai setara US$ 4,5 miliar dalam mata uang euro dan renminbi. Tingkat imbal hasilnya dinilai masih kompetitif, dengan kisaran 2 hingga 3 persen untuk renminbi dan 4 hingga 5 persen untuk euro.
Di sisi investasi, pemerintah juga memperkuat peran lembaga investasi baru bernama Danantara sebagai bagian dari pengelolaan makroekonomi nasional. Lembaga tersebut diharapkan dapat mendorong investasi tanpa membebani anggaran negara secara langsung.
Pemerintah menegaskan fokus belanja APBN saat ini lebih diarahkan pada konsumsi pemerintah serta program peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi kelompok berpendapatan menengah ke bawah, sambil tetap menjaga stabilitas fiskal di tengah dinamika ekonomi global. (Khy)















