Jakarta, Porosjambimedia.com – Ketidakpastian ekonomi global kembali menekan nilai tukar berbagai mata uang dunia. Dalam laporan terbaru Forbes Advisor, sejumlah mata uang tercatat mengalami pelemahan signifikan per April 2026.
Gejolak geopolitik, termasuk ketegangan di Selat Hormuz serta meningkatnya beban utang global, menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas nilai tukar. Selain itu, inflasi tinggi, ketidakstabilan politik, hingga ketergantungan pada impor energi turut memperparah kondisi di berbagai negara.
Laporan tersebut juga menjadi sorotan di tengah upaya sejumlah negara, termasuk Indonesia, dalam mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS melalui kebijakan dedolarisasi.
Berdasarkan data kurs terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada kisaran 23–24 April 2026, berikut daftar 10 mata uang terlemah di dunia:
- Rial Iran (IRR) Nilai tukar: 1 USD ≈ 1.320.000 – 1.330.000 IRR Rial Iran menjadi mata uang terlemah akibat sanksi internasional, inflasi tinggi, serta pembatasan ekspor minyak. Blokade di Selat Hormuz juga memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut.
- Pound Lebanon (LBP) Nilai tukar: 1 USD ≈ 89.500 – 90.000 LBP Krisis ekonomi berkepanjangan sejak 2019, runtuhnya sektor perbankan, serta instabilitas politik membuat nilai mata uang ini terus merosot.
- Dong Vietnam (VND) Nilai tukar: 1 USD ≈ 26.300 – 26.400 VND Nilai dong relatif rendah karena kebijakan pemerintah yang menjaga daya saing ekspor, bukan semata akibat krisis ekonomi.
- Kip Laos (LAK) Nilai tukar: 1 USD ≈ 22.000 – 22.200 LAK Utang luar negeri tinggi, inflasi, dan ketergantungan pada impor energi menjadi penyebab utama pelemahan kip.
- Rupiah Indonesia (IDR) Nilai tukar: 1 USD ≈ Rp17.150 – Rp17.190 Rupiah berada di posisi kelima. Pelemahannya dipengaruhi faktor global seperti kenaikan suku bunga di AS dan arus modal keluar, meski fundamental ekonomi domestik dinilai masih cukup stabil.
- Som Uzbekistan (UZS) Nilai tukar: 1 USD ≈ 12.200 – 12.400 UZS Dipengaruhi proses transisi ekonomi serta inflasi yang masih relatif tinggi.
- Franc Guinea (GNF) Nilai tukar: 1 USD ≈ 8.700 – 8.900 GNF Ketergantungan pada ekspor komoditas dan kondisi politik yang belum stabil menjadi faktor utama.
- Franc Burundi (BIF) Nilai tukar: 1 USD ≈ 2.900 – 3.050 BIF Ekonomi yang terbatas dan minim cadangan devisa menyebabkan nilai tukar sulit stabil.
- Ariary Malagasy (MGA) Nilai tukar: 1 USD ≈ 4.177 MGA Ekonomi Madagaskar yang bergantung pada sektor pertanian dan sumber daya alam membuat mata uang ini rentan terhadap fluktuasi global.
- Guarani Paraguay (PYG) Nilai tukar: 1 USD ≈ 6.485 PYG Inflasi, korupsi, serta tekanan ekonomi domestik menjadi penyebab utama pelemahan mata uang Paraguay.
Secara umum, laporan ini menunjukkan bahwa tekanan global masih menjadi faktor dominan dalam menentukan kekuatan mata uang, terutama bagi negara berkembang. Meski demikian, stabilitas ekonomi domestik tetap menjadi kunci utama dalam menjaga nilai tukar agar tidak terpuruk lebih dalam. (Hst)















