Jakarta, Porosjambimedia.com– Otoritas di Iran memecat direktur sebuah stasiun televisi pemerintah tingkat provinsi setelah terjadi insiden kontroversial dalam siaran langsung yang menyinggung Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.
Di lansir AFP, Jumat (13/2/2026) Media pemerintah melaporkan keputusan tersebut pada Rabu (10/12). Direktur siaran TV Provinsi Hamoun diberhentikan menyusul pernyataan seorang reporter yang dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap standar penyiaran.
Insiden bermula ketika reporter Musab Rasoulizad melaporkan secara langsung peringatan 47 tahun Revolusi Islam di Provinsi Sistan-Baluchistan. Dalam laporannya, ia menggambarkan suasana demonstrasi dan menyebutkan berbagai slogan yang diteriakkan massa, termasuk “Allahuakbar”.
Namun, dalam siaran tersebut, ia juga mengucapkan frasa “Marg bar Khamenei” yang berarti “Matilah Khamenei”. Ungkapan tersebut umumnya terdengar dalam aksi protes anti-pemerintah, bukan dalam peringatan resmi yang biasanya memuat slogan seperti “Matilah Amerika” atau “Matilah Israel”.
Tak lama setelah kejadian, Rasoulizad menyampaikan permintaan maaf melalui video terpisah. Ia menyebut pernyataan itu sebagai kesalahan ucap yang tidak disengaja dan mengakui kekeliruan tersebut telah dimanfaatkan oleh kelompok yang menentang pemerintah.
Selain pemecatan direktur, operator transmisi dan pengawas siaran juga dijatuhi sanksi skorsing. Staf lain yang dinilai terlibat dirujuk ke komite disiplin internal. Pihak berwenang menyatakan langkah ini diambil untuk menjaga profesionalisme dan reputasi media pemerintah.
Peringatan Revolusi Islam yang jatuh setiap 22 Bahman menandai mundurnya Shah dan naiknya Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai pemimpin baru Iran pada 1979. Pada momentum tersebut, sejumlah warga di berbagai kota turut menggelar aksi, termasuk di Teheran, dengan beragam slogan yang mencerminkan dinamika politik di dalam negeri.
Sementara itu, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan jutaan warga turun ke jalan untuk menunjukkan dukungan terhadap Republik Islam Iran dalam peringatan tersebut.
Peristiwa ini terjadi setelah gelombang demonstrasi yang berlangsung sejak akhir tahun lalu, yang awalnya dipicu persoalan ekonomi seperti inflasi tinggi. Pemerintah Iran menuding adanya campur tangan pihak asing dalam sejumlah aksi yang berujung ricuh dan menegaskan akan menindak tegas tindakan perusakan fasilitas umum. (Dta)















