Jakarta, Porosjambimedia.Com – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa arah kebijakan energi nasional harus berlandaskan pada ketahanan energi (energy resilience) guna menjamin keberlanjutan pasokan di tengah dinamika global. Hal tersebut juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam mencapai target net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Pernyataan tersebut disampaikan Eddy saat menghadiri forum bertajuk *Nuclear Energy Awareness for Indonesia’s Low-carbon Future* yang digelar di Kantor Pusat PLN, Rabu (11/2/2026). Ia menekankan bahwa Indonesia perlu memastikan kemampuan memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri, sembari tetap menjaga komitmen pengurangan emisi karbon.
Menurut Eddy, Indonesia menghadapi tantangan paradoks sebagai negara yang kaya sumber daya alam namun masih rentan terhadap ketergantungan pasokan energi. Oleh karena itu, kebijakan transisi energi perlu dirancang adaptif dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan, keterjangkauan harga, kapasitas nasional, keberlanjutan lingkungan, serta keandalan sistem.
Dalam konteks tersebut, ia menilai energi nuklir dapat menjadi salah satu solusi strategis. Sumber energi ini dinilai memiliki kapasitas besar dan mampu menyediakan pasokan listrik stabil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pada 2032 dan 2034 dengan total kapasitas awal 500 megawatt (MW). Kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat hingga 7 gigawatt (GW) pada 2040.
Meski demikian, Eddy mengingatkan bahwa pengembangan nuklir membutuhkan perencanaan komprehensif dan regulasi ketat, khususnya terkait aspek keselamatan dan keamanan. Tantangan yang dihadapi mencakup kebutuhan investasi besar, potensi pembengkakan biaya proyek, kesiapan teknologi berstandar tinggi, serta pengelolaan limbah radioaktif.
Ia juga menyoroti faktor geopolitik global yang turut memengaruhi arah kebijakan energi nasional, termasuk dinamika perdagangan internasional. Dalam situasi persaingan antarnegara yang semakin intens, Indonesia perlu cermat menentukan mitra strategis dan teknologi yang akan digunakan dalam pembangunan PLTN.
Di tengah pertumbuhan kebutuhan listrik yang melampaui pertumbuhan energi primer, Indonesia juga dihadapkan pada kompetisi global dalam perebutan teknologi, pembiayaan, sumber daya manusia, serta rantai pasok energi bersih.
Eddy mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memulai diskusi dan perencanaan matang terkait pembangunan kapasitas energi nuklir nasional. Ia optimistis, dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus ketahanan iklim demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkualitas. (Khy)















