Jakarta, Porosjambimedia.com– Memoar Broken Strings karya aktris Aurelie Moeremans menuai perhatian luas di media sosial. Buku tersebut mengisahkan pengalaman traumatis Aurelie yang menjadi korban grooming sejak usia remaja. Alih-alih sekadar merasa sedih, sejumlah pembaca justru mengaku mengalami reaksi fisik seperti mual, pusing, sesak napas, bahkan ingin muntah saat membaca beberapa bagian buku.
Unggahan pengalaman tersebut ramai dibagikan di TikTok dan platform media sosial lain. Banyak pembaca menyebut harus berhenti membaca di tengah jalan karena tubuh terasa tidak nyaman dan emosi menjadi kacau.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan di kalangan warganet: apakah reaksi fisik seperti itu normal, atau justru berlebihan?
Spesialis kedokteran jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa respons tersebut merupakan hal yang wajar dan memiliki penjelasan ilmiah. Ia menyebut kondisi ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai trauma trigger.
“Pada sebagian orang, terutama yang pernah memiliki pengalaman serupa atau luka emosional yang belum pulih, otak tidak memproses cerita sebagai kisah orang lain. Otak membacanya sebagai ancaman nyata,” jelas dr Lahargo saat dihubungi, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, bagian otak bernama amigdala—yang berfungsi sebagai sistem alarm bahaya—akan langsung aktif. Tubuh kemudian masuk ke mode fight, flight, atau freeze, sehingga memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.
Dampaknya bisa berupa mual, pusing, jantung berdebar, napas menjadi pendek, kecemasan meningkat, hingga muncul rasa tidak aman, meski pemicunya hanya dari bacaan.
“Ini bukan reaksi berlebihan, bukan tanda mental lemah, apalagi kurang iman. Ini adalah respons biologis tubuh terhadap trauma yang belum selesai,” tegasnya.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Terpicu?
Dr Lahargo menyarankan untuk tidak memaksakan diri melanjutkan bacaan ketika reaksi tersebut muncul.
“Dalam psikologi trauma, memaksa diri untuk ‘kuat’ justru dapat memperparah luka emosional,” ujarnya.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Menghentikan sementara paparan konten yang memicu
2. Melakukan teknik grounding, seperti menarik napas perlahan dan menyadari kondisi sekitar
3. Mengalihkan diri pada aktivitas yang memberi rasa aman
4. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya
5. Mencari bantuan profesional bila gejala terasa berat atau berulang
Ia menegaskan bahwa mencari bantuan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan mental. (Ai)















