Rumah Marga Tjhia: Ikon Sejarah dan Budaya Singkawang
Porosjambimedia.com – Singkawang dikenal sebagai kota dengan kekayaan budaya yang beragam. Salah satu destinasi yang mencerminkan hal tersebut adalah Rumah Keluarga Tjhia, sebuah bangunan cagar budaya yang kerap menjadi pusat perhatian wisatawan, terutama saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Lebih dari sekadar rumah tua, bangunan ini sering disebut sebagai museum hidup karena masih dihuni dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari, sambil tetap membuka ruang bagi wisatawan untuk belajar sejarah.
Awal Kisah: Perantau yang Mengubah Singkawang
Sejarah Rumah Marga Tjhia berawal dari sosok Chia Siu Xi (Xie Shou Shi), seorang perantau asal Fujian, Tiongkok. Ia tiba di Singkawang setelah melewati perjalanan sulit, termasuk melarikan diri dari konflik di wilayah Semenanjung Malaya.
Setibanya di Kalimantan Barat, kehidupannya jauh dari kata mudah. Ia memulai segalanya dari mengolah lahan kosong hingga menjadi area produktif. Dari sektor pertanian dan perkebunan inilah, Chia Siu Xi membangun fondasi bisnis yang kuat.
Kesuksesannya berkembang pesat ketika ia membentuk armada kapal dagang dan mengekspor hasil bumi ke Singapura. Perdagangan ini menjadikan Singkawang tumbuh dari wilayah sepi menjadi pusat ekonomi yang hidup.
Karena kontribusinya yang besar, pemerintah kolonial Belanda memberikan sebidang tanah seluas sekitar 5.000 meter persegi. Di lahan tersebut, pada tahun 1901, berdirilah kompleks Rumah Marga Tjhia yang masih lestari hingga kini.
Keunikan yang Menjadi Daya Tarik
1. Perpaduan Arsitektur Tiongkok dan Indische
Rumah ini dirancang oleh arsitek dari Tiongkok dengan konsep Siheyuan, yaitu bangunan yang mengelilingi halaman tengah. Desain ini tidak hanya indah, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan keluarga.
Material utamanya menggunakan kayu ulin, kayu khas Kalimantan yang terkenal kuat dan tahan lama. Ornamen ukiran detail di pintu dan jendela memperkuat kesan klasik dan elegan.
Menariknya, bagian belakang rumah langsung menghadap sungai yang dahulu difungsikan sebagai jalur keluar-masuk kapal dagang keluarga Tjhia.
2. Rumah Tinggal yang Terbuka untuk Wisata
Berbeda dengan museum konvensional, Rumah Marga Tjhia masih dihuni oleh keturunannya. Pengunjung diperbolehkan menikmati area tertentu seperti teras dan halaman tengah.
Suasana rumah yang autentik dan estetik menjadikannya lokasi favorit untuk fotografi, termasuk pemotretan pre-wedding dengan nuansa tempo dulu.
3. Surga Kuliner Tradisional Singkawang
Tak lengkap rasanya berkunjung tanpa mencicipi kuliner khasnya. Choipan menjadi sajian paling diburu wisatawan. Teksturnya lembut dengan isian khas seperti bengkuang, kucai, atau rebung, dilengkapi taburan bawang goreng.
Selain choipan, tersedia juga jajanan tradisional lain seperti rujak serut, tahu, dan minuman segar yang cocok disantap di siang hari.
Lokasi dan Cara Menuju Rumah Marga Tjhia
Rumah ini berlokasi di Jalan Budi Utomo No. 35, Singkawang Barat, Kalimantan Barat. Meski berada di pusat kota, pintu masuknya berupa gang kecil di antara ruko-ruko.
Pengunjung dapat mencari Gerbang Marga Tjhia sebagai penanda utama sebelum memasuki kawasan tradisional di tepi sungai.
Tips Berkunjung agar Lebih Nyaman
1. Datang pagi atau sore hari untuk menghindari cuaca panas
2. Jika ingin mencicipi choipan, sebaiknya datang lebih awal
3. Jaga sikap dan sopan santun karena ini masih rumah tinggal
4. Minta izin sebelum memotret area tertentu
(Ai)















