Guyana Jadi Contoh Dunia: Negara Kecil yang Mampu Penuhi Pangan Sendiri Tanpa Merusak Hutan

- Redaksi

Sabtu, 10 Januari 2026 - 18:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Porosjambimedia.com Saat banyak negara masih bergantung pada impor dan menghadapi ancaman krisis pangan, sebuah negara kecil di Amerika Selatan justru mencuri perhatian dunia. Guyana dinobatkan sebagai satu-satunya negara yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan pangan penduduknya dari produksi dalam negeri, tanpa mengorbankan kelestarian alam.

Dengan luas wilayah sekitar 214.969 km²—bahkan lebih kecil dari Pulau Sumatera—Guyana berhasil membangun sistem pangan yang mandiri, beragam, dan berkelanjutan. Beras, umbi-umbian, ikan, daging, buah, hingga sayuran diproduksi sendiri dan mudah ditemukan di pasar-pasar lokal, khususnya di ibu kota Georgetown.

Diakui Riset Global

Keberhasilan Guyana ini diperkuat oleh studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Food pada 16 Mei 2025. Penelitian tersebut mengevaluasi 186 negara berdasarkan kemampuan mereka menyediakan pangan bagi warganya dari hasil domestik.

Hasilnya, Guyana menjadi satu-satunya negara yang mencapai swasembada penuh untuk seluruh kelompok pangan utama, mulai dari:

1. makanan pokok bertepung

2. buah dan sayuran

3. produk hewani dan perikanan

4. kacang-kacangan serta biji-bijian

Baca Juga :  Arab Saudi Rancang Pakta Pertahanan Baru, Peta Keamanan Timur Tengah Berpotensi Bergeser

Yang menarik, capaian ini diraih tanpa menutup diri dari perdagangan internasional. Guyana tetap berdagang dengan negara lain, namun secara nutrisi tidak bergantung pada impor.

Pertanian Produktif Tanpa Deforestasi

Berbeda dengan sejumlah negara yang mengejar swasembada dengan membuka hutan besar-besaran, Guyana memilih jalur berbeda. Lebih dari 85 persen hutan alaminya tetap terjaga hingga kini.

Kunci keberhasilan ini terletak pada pemanfaatan lahan yang efisien. Letak geografis Guyana di dekat garis khatulistiwa membuat wilayahnya memiliki iklim hangat sepanjang tahun, curah hujan cukup, serta tanah subur—khususnya di daerah pesisir yang kaya endapan mineral.

Para petani Guyana juga mengandalkan sistem tumpang sari, yakni menanam berbagai jenis tanaman dalam satu lahan. Metode ini terbukti mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga keseimbangan nutrisi tanah.

Tanah Dijaga, Produksi Tetap Optimal

Pendekatan pertanian Guyana tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang. Keanekaragaman tanaman membantu menjaga struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, serta mengurangi risiko gagal panen akibat hama dan cuaca ekstrem.

Baca Juga :  Gotong Royong Bersama Warnai Semangat HUT ke-17 Kota Sungai Penuh

Prinsip ini berlawanan dengan sistem monokultur intensif yang banyak digunakan di berbagai negara dan sering kali mempercepat degradasi lahan.

Tidak Semua Negara Bisa Meniru

Meski menginspirasi, model swasembada Guyana bukan solusi universal. Para peneliti menekankan bahwa setiap negara memiliki kondisi geografis, iklim, dan sosial yang berbeda.

Beberapa keterbatasan swasembada pangan antara lain:

1. tidak cocok diterapkan di semua wilayah

2. berisiko membatasi perdagangan dan kebebasan ekonomi

3. membutuhkan lahan subur yang tidak dimiliki setiap negara

4. bukan satu-satunya jawaban atas ketahanan pangan global

Namun demikian, pengalaman Guyana menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dicapai dengan menggabungkan teknologi modern dan prinsip pertanian alami yang menghormati batas ekosistem. (Ai)

Berita Terkait

QRIS Terus Mendunia, BI Siapkan Ekspansi Pembayaran Digital ke Hong Kong, India hingga Arab Saudi
10 Hari Tertimbun Lumpur, Perempuan 64 Tahun di Nepal Ditemukan Selamat oleh Tim Penyelamat
Agnez Mo Curi Perhatian di Serial Reacher, Penampilan Awet Muda Jadi Sorotan Penonton Dunia
Pesawat Sipil Jatuh di Fasilitas Radar AS di Alaska, Delapan Penumpang Dipastikan Meninggal
S&P Proyeksikan Rupiah Menguat ke Rp17.700 per Dolar AS pada 2026
Laporan ITE 4 Bulan Mengendap, Pelapor Akhirnya Dihubungi penyidik Polres Sarolangun
Patung Raksasa Lionel Messi di India Akan Dipindahkan Setelah Bergoyang Diterpa Angin
HIPMI Jambi Dukung Ekspor Kopi Kerinci ke Mesir, Melalui pelabuhan Talang duku, Generasi Muda Diajak Tembus Pasar Global
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB