Koalisi Teluk Terbelah: Saudi dan UEA Berhadapan di Medan Konflik Yaman

- Redaksi

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Porosjambimedia.com – Retakan serius muncul dalam hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman, menandai fase paling genting sejak kedua negara memimpin koalisi militer melawan kelompok Houthi hampir satu dekade lalu. Gelombang serangan udara Arab Saudi sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 mengungkap perbedaan kepentingan yang selama ini tersembunyi di balik musuh bersama.

Ketegangan memuncak ketika jet tempur Saudi menggempur wilayah yang dikuasai Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), kelompok separatis Yaman selatan yang selama ini dikenal dekat dengan UEA. Serangan itu menjadi sinyal bahwa Riyadh kini memandang STC bukan sekadar mitra taktis, melainkan ancaman strategis.

Puncak eskalasi terjadi pada 2 Januari 2026 saat serangan udara menghantam Al-Khashaa di Provinsi Hadramaut. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi ini memiliki nilai strategis tinggi. Laporan media internasional menyebutkan korban jiwa dan puluhan luka-luka akibat serangan tersebut. Pimpinan STC di Hadramaut menuding Saudi secara langsung menargetkan posisi pasukan mereka.

Tak lama berselang, Pelabuhan Mukalla ikut diserang. Riyadh menuduh pelabuhan itu menjadi jalur masuk persenjataan STC yang diklaim berasal dari UEA—tuduhan yang dibantah keras oleh Abu Dhabi. Langkah ini menandai perubahan signifikan: untuk pertama kalinya Saudi secara terbuka menyerang kelompok yang secara formal masih berada di dalam kubu anti-Houthi.

Baca Juga :  Hujan Deras Picu Kecelakaan Kereta di Barcelona, Masinis Tewas dan Puluhan Penumpang Cedera

Hadramaut sendiri bukan sekadar provinsi terluas di Yaman. Kawasan ini kaya minyak, strategis secara geografis, serta memiliki ikatan historis dan kultural dengan Arab Saudi. Banyak elite Saudi diketahui memiliki akar keluarga dari wilayah tersebut, menjadikan stabilitas Hadramaut sebagai kepentingan vital bagi kerajaan.

Ketika STC berhasil menguasai Hadramaut dan Al-Mahra pada awal Desember 2025—dua provinsi yang mencakup hampir setengah wilayah Yaman—Riyadh melihatnya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan perbatasannya. Ambisi STC untuk membangun negara Yaman selatan yang merdeka dinilai berpotensi menciptakan zona instabilitas permanen di selatan Saudi.

Bentrokan berlanjut di Kota Mukalla pada 3 Januari 2026. Serangan udara menghantam markas pasukan STC, sementara kelompok bersenjata lokal yang loyal kepada pemerintah Yaman mengklaim merebut kembali sejumlah lokasi strategis. Pemerintah Yaman menyatakan pasukan nasional kini bergerak mengamankan wilayah pesisir Hadramaut, menandai upaya konsolidasi kekuasaan yang didukung Riyadh.

Di tengah eskalasi militer, Arab Saudi juga melancarkan langkah politik. Riyadh menyerukan dialog dengan faksi-faksi selatan untuk merumuskan solusi “adil dan komprehensif” bagi persoalan Yaman selatan. Namun, seruan ini dibayangi oleh bom dan serangan udara, sehingga efektivitasnya dipertanyakan.

Baca Juga :  Bupati Monadi Ajak Warga Kerinci Perkuat Kepedulian Sosial Saat Idul Adha 1447 H

Situasi makin rumit ketika STC mendeklarasikan konstitusi sementara pembentukan “Negara Arab Selatan”. Dokumen tersebut memproyeksikan masa transisi dua tahun sebelum referendum kemerdekaan. Pemerintah Yaman menolak deklarasi itu dan menegaskan kembali komitmen pada persatuan nasional.

Retaknya hubungan Saudi-UEA sejatinya merupakan akumulasi perbedaan strategi sejak awal perang Yaman. Saudi fokus menjaga keutuhan negara Yaman melalui dominasi udara, sementara UEA membangun pengaruh darat melalui jaringan milisi lokal di selatan. Perbedaan ini kini berubah menjadi konfrontasi terbuka.

Dinamika tersebut mencerminkan apa yang disebut ilmuwan hubungan internasional Robert Jervis sebagai security dilemma. Langkah yang dianggap defensif oleh satu pihak sering ditafsirkan sebagai ancaman oleh pihak lain, memicu spiral konflik yang sulit dihentikan. Di Yaman, spiral ini tidak hanya mengancam persatuan negara, tetapi juga stabilitas kawasan Teluk secara keseluruhan. (Dta)

Berita Terkait

QRIS Terus Mendunia, BI Siapkan Ekspansi Pembayaran Digital ke Hong Kong, India hingga Arab Saudi
10 Hari Tertimbun Lumpur, Perempuan 64 Tahun di Nepal Ditemukan Selamat oleh Tim Penyelamat
Agnez Mo Curi Perhatian di Serial Reacher, Penampilan Awet Muda Jadi Sorotan Penonton Dunia
Pesawat Sipil Jatuh di Fasilitas Radar AS di Alaska, Delapan Penumpang Dipastikan Meninggal
S&P Proyeksikan Rupiah Menguat ke Rp17.700 per Dolar AS pada 2026
Laporan ITE 4 Bulan Mengendap, Pelapor Akhirnya Dihubungi penyidik Polres Sarolangun
Patung Raksasa Lionel Messi di India Akan Dipindahkan Setelah Bergoyang Diterpa Angin
HIPMI Jambi Dukung Ekspor Kopi Kerinci ke Mesir, Melalui pelabuhan Talang duku, Generasi Muda Diajak Tembus Pasar Global
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB