Curhat ke AI Saat Sedih? Ini Risiko Tersembunyi yang Jarang Disadari

- Redaksi

Rabu, 7 Januari 2026 - 11:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Balikpapan, Porosjambimedia.com– Peran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tak lagi sebatas membantu pekerjaan atau mencari informasi. Di Indonesia, AI mulai digunakan sebagai tempat mencurahkan perasaan, terutama ketika seseorang sedang sedih, stres, atau merasa sendirian.

Sebuah survei global yang dirilis perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap fakta menarik: sekitar 3 dari 10 pengguna AI di Indonesia mengaku memilih berbicara dengan AI saat sedang tidak bahagia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengguna global.

Fenomena tersebut paling banyak ditemukan pada Generasi Z dan milenial. Kedua kelompok ini menilai AI sebagai “teman” yang selalu tersedia, cepat merespons, dan tidak menghakimi. Bagi mereka, berbicara dengan AI terasa lebih mudah dibandingkan membuka diri kepada orang lain.

Sebaliknya, minat untuk curhat ke AI relatif rendah di kalangan usia lanjut. Responden berusia di atas 55 tahun hanya sebagian kecil yang tertarik menggunakan AI sebagai sarana pelampiasan emosi.

AI Terasa Empatik, Tapi Tidak Sepenuhnya Aman

Kemajuan AI generatif memungkinkan chatbot menyusun respons yang terdengar empatik, menenangkan, bahkan memberikan saran layaknya manusia. Hal inilah yang membuat banyak orang merasa dipahami saat berbicara dengan AI.

Baca Juga :  Pemerintah Terbitkan Aturan Baru, Anak di Bawah 16 Tahun Ditunda Aksesnya ke Media Sosial

Namun, para pakar keamanan digital mengingatkan bahwa kenyamanan tersebut menyimpan risiko besar, terutama terkait privasi dan keamanan data pribadi.

Sebagian besar layanan AI dikelola oleh perusahaan komersial dengan kebijakan pengumpulan data masing-masing. Percakapan yang berisi keluhan emosional, masalah pribadi, hingga informasi sensitif berpotensi direkam, dianalisis, dan disimpan di server pihak ketiga.

Data tersebut dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari pemetaan kondisi psikologis pengguna, pembentukan profil perilaku digital, hingga penargetan iklan yang lebih agresif. Dalam kondisi terburuk, informasi ini bisa disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

 Risiko Manipulasi dan Kejahatan Digital

Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, menegaskan bahwa AI bukanlah pengganti interaksi manusia.

“AI belajar dari data yang sebagian besar berasal dari internet. Itu berarti AI dapat mewarisi bias, kesalahan, dan asumsi keliru. Pengguna perlu bersikap kritis dan tidak menganggap AI sebagai solusi emosional utama,” ujarnya.

Baca Juga :  DJP Hapus Sanksi Telat Lapor SPT 2025 hingga 30 April 2026

Para ahli menyoroti beberapa risiko serius jika terlalu sering curhat ke AI, antara lain:

1. Kebocoran data pribadi dan emosional

2. Phishing dan penipuan berbasis emosi

3. Manipulasi perilaku digital

4. Penyalahgunaan identitas

5. Pemerasan berbasis informasi pribadi

Berbeda dengan psikolog atau orang terdekat, AI tidak memiliki kewajiban etis untuk melindungi kerahasiaan pengguna secara mutlak.

Perlu Batasan dalam Menggunakan AI

Pakar menekankan bahwa AI sebaiknya tetap diposisikan sebagai alat bantu, bukan tempat bergantung secara emosional. Mencari dukungan dari keluarga, sahabat, atau tenaga profesional tetap menjadi pilihan yang jauh lebih aman dan sehat secara psikologis.

Kesadaran digital menjadi kunci agar teknologi tidak justru membawa dampak negatif bagi penggunanya. (Ai)

Berita Terkait

Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, Ombudsman RI Pantau Layanan Penumpang di Bandara
Erupsi Anak Krakatau Picu Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Bakauheni
Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jakarta, BNPB Kerahkan Modifikasi Cuaca hingga Malam
Perkuat Penanganan Karhutla, Jambi Dapat Tambahan Helikopter Water Bombing dari Pemerintah Pusat
Agnez Mo Curi Perhatian di Serial Reacher, Penampilan Awet Muda Jadi Sorotan Penonton Dunia
Pemerintah Siapkan Rekonstruksi Rumah Korban Gempa NTT, Pendataan Jadi Prioritas
Hotspot Karhutla di Kalimantan Meningkat 4 Kali Lipat dalam Sehari
Korban Gempa M 7,7 di NTT Capai 83 Orang, Ribuan Warga Masih Terdampak
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB