Bandung , Porosjambimedia.com – Pernah merasa ingin terus ngemil saat sedang tertekan, atau sebaliknya malah tak tertarik makan sama sekali? Perubahan nafsu makan saat stres adalah hal yang umum terjadi dan dipengaruhi oleh reaksi alami tubuh serta kondisi psikologis seseorang.
Menariknya, stres tidak selalu menimbulkan dampak yang sama. Pada sebagian orang, stres memicu keinginan makan berlebih, sementara pada orang lain justru menekan rasa lapar. Perbedaan ini berkaitan erat dengan cara tubuh mengatur hormon dan emosi.
Respons Alami Tubuh Saat Mengalami Stres
Stres merupakan mekanisme pertahanan tubuh ketika menghadapi tekanan fisik maupun mental. Saat stres muncul, tubuh secara otomatis mengaktifkan sistem saraf untuk bersiap menghadapi ancaman.
Dalam kondisi ini, hormon seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan untuk meningkatkan energi. Detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, dan fokus tubuh dialihkan ke hal-hal yang dianggap penting untuk bertahan. Akibatnya, proses pencernaan sementara waktu tidak menjadi prioritas.
Inilah sebabnya, pada kondisi stres mendadak, rasa lapar sering kali menurun atau bahkan hilang.
Namun, bila tekanan berlangsung lama, tubuh tetap berada dalam kondisi siaga. Pelepasan hormon kortisol yang berkepanjangan justru dapat memicu perubahan besar pada pola makan.
Perbedaan Dampak Stres Jangka Pendek dan Panjang
Stres Sesaat Bisa Menekan Nafsu Makan
Stres yang bersifat singkat, seperti menghadapi ujian atau tenggat waktu mendesak, biasanya membuat seseorang lupa makan. Tubuh fokus menyelesaikan ancaman sehingga sinyal lapar ditekan untuk sementara.
Stres Berkepanjangan Cenderung Memicu Makan Berlebih
Berbeda dengan stres jangka pendek, stres yang terus-menerus dapat meningkatkan kadar kortisol dalam waktu lama. Kondisi ini sering dikaitkan dengan meningkatnya keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak.
Tubuh seolah mencari “hadiah” atau rasa nyaman melalui makanan untuk meredakan tekanan emosional yang dirasakan.
Mengapa Respons Setiap Orang Bisa Berbeda?
1. Ketidakseimbangan Hormon
Hormon lapar (ghrelin) dan hormon kenyang (leptin) berperan penting dalam mengatur asupan makanan. Stres kronis dapat mengganggu kerja kedua hormon ini, sehingga seseorang mudah lapar namun sulit merasa kenyang.
2. Faktor Psikologis dan Emosional
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengelola emosi. Ada yang menggunakan makanan sebagai pelarian saat stres, sementara yang lain justru kehilangan minat makan karena kecemasan berlebihan.
3. Pola Hidup Sehari-hari
Kurang tidur, kebiasaan makan yang tidak teratur, serta minimnya dukungan sosial dapat memperburuk dampak stres terhadap nafsu makan. Tidur yang buruk, misalnya, terbukti dapat mengacaukan sinyal lapar dan kenyang.
Cara Menjaga Pola Makan Tetap Seimbang Saat Stres
Agar stres tidak berdampak buruk pada kesehatan, beberapa langkah sederhana bisa diterapkan, seperti menjaga jam makan tetap teratur, melakukan aktivitas fisik ringan, serta meluangkan waktu untuk relaksasi.
Memahami hubungan antara stres dan nafsu makan dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap sinyal tubuhnya, sehingga tetap mampu menjaga keseimbangan nutrisi meski berada di bawah tekanan. (Ai)















