GAZA, Porosjambimedia.com — Ketegangan kembali meningkat di Jalur Gaza meski perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas masih berlaku.
Pemerintah Gaza menuduh militer Israel telah melakukan 47 pelanggaran gencatan senjata sejak awal Oktober 2025, yang menyebabkan 38 warga Palestina meninggal dunia dan lebih dari 140 orang terluka.
Dalam keterangan resminya, otoritas Gaza menyebut bahwa pelanggaran tersebut meliputi penembakan terhadap warga sipil, serangan udara terbatas, hingga penangkapan sewenang-wenang.
“Israel terus melakukan tindakan militer di berbagai wilayah Gaza meski status perang telah dihentikan,” demikian pernyataan resmi yang disiarkan kantor media pemerintah Gaza, Sabtu (18/10/2025).
Pihak Gaza meminta PBB dan negara-negara penjamin perjanjian untuk segera menekan Israel agar menghentikan kekerasan terhadap warga sipil serta memastikan proses kemanusiaan berjalan tanpa hambatan.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perbatasan Rafah — jalur utama bantuan ke Gaza — tidak akan dibuka sampai Hamas menyerahkan seluruh jenazah sandera Israel yang masih ditahan.
“Perbatasan Rafah akan tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut,” tulis pernyataan resmi kantor Netanyahu yang dikutip dari The Guardian.
Israel menyebut Palang Merah telah menerima dua jenazah sandera pada Sabtu malam sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa kekerasan masih berlanjut.
Pada Jumat lalu, sebelas anggota satu keluarga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan udara di kawasan Zeitoun, Kota Gaza. Badan Pertahanan Sipil Gaza menyebut keluarga tersebut tengah kembali ke rumah setelah evakuasi, ketika kendaraan yang mereka tumpangi ditembak karena dianggap melewati “garis kuning” — zona imajiner yang ditetapkan militer Israel.
“Tidak ada tanda fisik yang menunjukkan posisi garis itu, sehingga warga sipil tidak bisa membedakannya,” ujar juru bicara pertahanan sipil, Mahmoud Basal. Video yang dirilis otoritas lokal menunjukkan proses evakuasi jenazah, termasuk tujuh anak dan tiga perempuan.
Militer Israel (IDF) mengonfirmasi adanya serangan terhadap kendaraan tersebut, dengan alasan kendaraan itu “mendekati pasukan secara mencurigakan.” Israel dan Hamas kini saling menuduh melanggar gencatan senjata yang baru berjalan delapan hari.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 68.000 warga Palestina telah meninggal dunia sejak perang dimulai, sementara sekitar 10.000 orang masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Badan Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan terdapat 60 juta ton puing di seluruh wilayah Gaza, membuat proses pencarian korban hampir mustahil dilakukan tanpa bantuan internasional.
Turki telah mengirim tim penyelamat dan ahli konstruksi untuk membantu evakuasi jenazah dari reruntuhan bangunan.
Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan Israel telah mengembalikan 15 jenazah warga Palestina pada Sabtu, menambah total menjadi 135 jenazah sejak gencatan dimulai. Sejumlah dokter di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, melaporkan bahwa banyak jenazah menunjukkan tanda-tanda penyiksaan dan eksekusi, seperti tangan terikat, mata tertutup, dan luka tembak di kepala.
Sementara itu, kantor Netanyahu juga mengonfirmasi bahwa salah satu jenazah yang dikembalikan Hamas diidentifikasi sebagai Eliyahu Margalit, salah satu warga Israel yang menjadi korban penyanderaan. (Hst)
Sumber Berita : CNBC INDONESIA















