TPST RKE dan Krisis Tata Kelola Lingkungan di Sungai Penuh

- Redaksi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 12:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis:Abiem Anjaya, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi

Porosjambimedia.com – Kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Renah Kayu Embun (RKE) awalnya membawa harapan baru bagi masyarakat Kota Sungai Penuh dalam mengatasi persoalan sampah yang selama ini terus berulang. Pemerintah membangun narasi besar tentang pengelolaan sampah modern berbasis reduksi dan ekonomi sirkular. Namun di lapangan, realitas operasional TPST RKE justru memperlihatkan masih lemahnya keseriusan pemerintah daerah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Sebagai warga dan mahasiswa Ilmu Politik, saya melihat bahwa persoalan TPST RKE bukan hanya soal teknis pengelolaan sampah, tetapi juga mencerminkan problem tata kelola pemerintahan daerah.

Persoalan pertama terlihat dari tata kelola yang masih setengah hati. Operasional TPST hingga hari ini masih terjebak dalam pola lama: angkut, tumpuk, lalu buang. Pemilahan sampah dari sumber belum berjalan maksimal, mesin pengolah kerap tidak optimal karena minim perawatan, dan hasil pengolahan seperti kompos belum memiliki pasar yang jelas.

Padahal, sebuah fasilitas publik tidak cukup hanya dibangun secara fisik. Yang lebih penting adalah keberlanjutan sistemnya. Ketika pemerintah hanya fokus pada pembangunan proyek tanpa memperkuat operasional, pengawasan, dan sumber daya manusia, maka TPST berisiko menjadi proyek seremonial yang kehilangan fungsi sosialnya.

Persoalan kedua adalah minimnya transparansi dan partisipasi publik. Hingga saat ini, masyarakat tidak memiliki akses terbuka terhadap data pengelolaan TPST: berapa ton sampah yang masuk setiap hari, berapa persen yang berhasil direduksi, hingga bagaimana hasil pengelolaan ekonominya.

Baca Juga :  Kota Sungai Penuh Di Usia 17 Tahun: Antara Capaian Dan Harapan Yang Menggantung

Dalam pemerintahan demokratis, keterbukaan informasi adalah syarat utama akuntabilitas publik. Tanpa transparansi, masyarakat sulit melakukan pengawasan. Akibatnya muncul kecurigaan bahwa pengelolaan TPST lebih berorientasi pada pencitraan politik dibanding penyelesaian persoalan lingkungan secara serius.

Saya menilai pemerintah daerah masih terlalu nyaman bekerja dalam pola birokrasi tertutup. Padahal persoalan sampah menyangkut kepentingan publik yang luas dan membutuhkan kepercayaan masyarakat.

Persoalan ketiga adalah lemahnya koordinasi lintas sektor. Sampah bukan hanya urusan Dinas Lingkungan Hidup. Persoalan ini berkaitan dengan sektor pertanian, UMKM, pendidikan, kesehatan, hingga tata ruang kota. Namun yang terlihat saat ini, TPST RKE berjalan sendiri tanpa dukungan ekosistem yang kuat.

Kompos hasil pengolahan belum terkoneksi dengan program pertanian daerah. Bank sampah belum benar-benar terintegrasi dengan sekolah dan kelurahan. Edukasi lingkungan juga belum menjadi gerakan kolektif pemerintah kota.

Akibatnya, pengelolaan sampah berjalan parsial dan tidak menyentuh akar persoalan. Padahal keberhasilan kebijakan publik sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah membangun kolaborasi lintas sektor.

TPST RKE sebenarnya bisa menjadi simbol kemandirian Kota Sungai Penuh dalam menghadapi krisis lingkungan. Namun otonomi daerah tanpa keberanian politik anggaran, tanpa transparansi, dan tanpa pengawasan publik hanya akan menjadi slogan administratif.

Baca Juga :  Memaknai Fitrah di Moment yang Fitri

Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, saya melihat krisis sampah hari ini sesungguhnya adalah krisis political will pemerintah daerah. Pemerintah terlalu sering bangga pada pembangunan fisik, tetapi belum serius membangun sistem yang kuat dan berkelanjutan.

Lingkungan hidup tidak bisa dikelola dengan pendekatan proyek lima tahunan atau sekadar mengejar penghargaan Adipura. Pengelolaan sampah membutuhkan komitmen politik jangka panjang, keterlibatan masyarakat, serta keberanian pemerintah membuka diri terhadap kritik dan evaluasi publik.

Pemerintah Kota Sungai Penuh jangan hanya bangga memiliki TPST. Bangun sistemnya, buka datanya, libatkan masyarakatnya, dan alokasikan anggaran operasional yang layak.

Sebab jika TPST RKE terus dioperasikan seadanya, maka kita sebenarnya tidak sedang menyelesaikan masalah sampah. Kita hanya memindahkan gunungan sampah ke Renah Kayu Embun sambil mempertahankan ilusi bahwa persoalan telah selesai. (Hst)

Berita Terkait

Menerka Karakter Manusia Kerinci
PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
‎Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ
Himsak Kecam Gubernur Jambi: Jangan Sulap Bencana Menjadi Laporan Pencitraan di Hadapan Presiden
Menagih Komitmen Tata Kelola Lingkungan di Mendalo Darat
Selamat Jalan H. Bakri: Jambi Kehilangan Putra Terbaik, IKAMI Kehilangan Sosok Pengayom
LBH NADI Perkuat Sinergi dengan BNNP Jambi, Soroti Modus Baru “Pod Getar” dan Dorong Penguatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba
Berita ini 295 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB