Jakarta, Porosjambimedia.com –Restoran all you can eat kerap menjadi pilihan saat buka puasa bersama. Setelah seharian menahan lapar dan haus, banyak orang tergoda menyantap beragam makanan tinggi lemak, pedas, gorengan, serta minuman manis dalam waktu singkat dan jumlah besar.
Kondisi lambung yang kosong selama berjam-jam kemudian menerima asupan dalam volume besar secara tiba-tiba. Tekanan di dalam lambung meningkat, terutama jika makanan yang dikonsumsi tinggi lemak karena proses pengosongan lambung menjadi lebih lambat. Akibatnya, muncul keluhan seperti perut terasa penuh, mual, cepat kenyang, hingga rasa tidak nyaman di ulu hati.
Keluhan tersebut kerap langsung dianggap sebagai GERD. Padahal, dalam banyak kasus, gejala awal yang muncul adalah dispepsia, yakni kumpulan keluhan seperti begah, nyeri ulu hati, kembung, dan sensasi terbakar setelah makan. Dispepsia tidak selalu disebabkan luka pada lambung, melainkan bisa karena gangguan fungsi pencernaan.
Perubahan pola makan drastis saat berbuka juga berperan. Lambung yang sebelumnya kosong harus beradaptasi cepat terhadap jumlah dan jenis makanan yang lebih berat. Jika kebiasaan makan berlebihan ini terjadi berulang, keluhan dapat semakin sering muncul dan terasa lebih mengganggu, terutama pada malam hari menjelang istirahat.
Mengatur porsi makan, menghindari konsumsi berlebihan sekaligus, serta membatasi makanan tinggi lemak dan pedas menjadi langkah penting agar momen buka puasa tetap nyaman tanpa memicu gangguan lambung. (Khy)















