Jakarta, Porosjambimedia.com – Dunia kembali dikejutkan oleh laporan kematian akibat infeksi virus Nipah di Bangladesh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi seorang perempuan di wilayah utara Bangladesh meninggal dunia pada Januari 2026 setelah terpapar virus zoonosis berbahaya tersebut.
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya kewaspadaan internasional, menyusul temuan infeksi virus Nipah di India dalam waktu berdekatan. Situasi tersebut mendorong sejumlah negara di kawasan Asia untuk memperketat pengawasan kesehatan, khususnya di pintu masuk internasional seperti bandara.
WHO mencatat, pasien tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah. Namun, ia diketahui mengonsumsi air nira kurma mentah, yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur penularan virus Nipah. Sebanyak 35 orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien telah dipantau secara intensif dan seluruhnya dinyatakan negatif.
Pakar Ingatkan Dunia Tak Boleh Lengah
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Regional Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menilai kejadian ini sebagai peringatan serius bagi seluruh negara, termasuk Indonesia.
Ia menyebut, kasus di Bangladesh menunjukkan bahwa penyebaran virus Nipah tidak terbatas pada satu negara saja. Pasien diketahui tinggal di Distrik Naogaon, Divisi Rajshahi, wilayah timur laut Bangladesh, yang secara geografis berbeda dengan lokasi kasus di India.
Menurut Prof. Tjandra, hal ini menegaskan bahwa ancaman virus Nipah bersifat lintas wilayah dan membutuhkan kewaspadaan global, bukan hanya respons lokal.
Perjalanan Penyakit Sangat Cepat
Ia juga menyoroti cepatnya perburukan kondisi pasien. Gejala awal berupa demam, sakit kepala, lemas, muntah, dan hilang nafsu makan muncul pada pertengahan Januari. Dalam hitungan hari, kondisi pasien memburuk dengan gangguan saraf seperti kebingungan, kejang, hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
Pasien meninggal dunia hanya sehari setelah sampel pemeriksaan laboratorium diambil. Pola ini, menurut Prof. Tjandra, mencerminkan karakter virus Nipah yang agresif dan memiliki tingkat kematian tinggi.
Peran Penting Diagnosis Laboratorium
Kasus tersebut dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium menggunakan metode PCR serta deteksi antibodi IgM anti-Nipah dengan teknik ELISA. Pemeriksaan serupa juga dilakukan terhadap kontak pasien yang sempat menunjukkan gejala, meskipun hasilnya negatif.
Langkah cepat dalam diagnosis dan pelacakan kontak dinilai krusial untuk mencegah penyebaran lebih luas. Bangladesh diketahui segera melakukan investigasi wabah setelah kasus terkonfirmasi.
Edukasi dan Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Riwayat konsumsi air nira kurma mentah kembali menegaskan pentingnya edukasi kesehatan masyarakat terkait jalur penularan virus Nipah, selain kontak dengan hewan pembawa virus seperti kelelawar.
Prof. Tjandra menekankan bahwa setiap negara idealnya memiliki tiga pilar kesiapsiagaan utama: tim investigasi wabah yang sigap, fasilitas layanan kesehatan yang siap menangani pasien, serta laboratorium dengan akurasi tinggi yang didukung sarana memadai.
Ia menilai, kemunculan kasus di Bangladesh setelah laporan di India menjadi sinyal kuat bahwa negara-negara lain perlu bersiap dan mengambil langkah pencegahan guna melindungi masyarakatnya dari ancaman penyakit menular berbahaya. (Ai)















