Jakarta, Porosjambimedia.com– China semakin serius masuk ke bisnis pariwisata antariksa. Perusahaan antariksa komersial asal Beijing, InterstellOr, mengumumkan rencana penerbangan wisata luar angkasa suborbital berawak pada 2028, dengan harga tiket sekitar 3 juta yuan atau setara Rp 7,2 miliar per orang.
Mengutip laporan Straits Times, Rabu (4/2/2026), penerbangan ini diperkirakan berlangsung selama 2,5 jam dan akan membawa penumpang hingga mencapai Garis Karman di ketinggian 100 kilometer dari permukaan bumi, batas yang secara internasional diakui sebagai awal wilayah luar angkasa.
InterstellOr mengklaim sudah menerima lebih dari 20 pendaftar, termasuk profesional teknik, eksekutif perusahaan robotika di Shanghai, hingga aktor ternama China, Huang Jingyu. Para calon wisatawan ini tertarik merasakan pengalaman melayang tanpa gravitasi dan menyaksikan lengkungan bumi secara langsung, tanpa harus menjalani pelatihan astronot profesional.
Perusahaan ini menjadi startup antariksa China kedua yang secara terbuka mengumumkan jadwal misi berawak berbayar, menyusul Jiangsu Deep Blue Aerospace yang sebelumnya menjual tiket roket suborbital untuk penerbangan tahun 2027. Pengumuman tersebut memicu lonjakan minat publik terhadap sektor antariksa komersial di China.
Namun, antusiasme ini juga diiringi keraguan. InterstellOr dinilai masih minim pengalaman karena baru berdiri pada Januari 2023. Sejumlah netizen China menyoroti keterbatasan paten teknologi serta latar belakang tim inti yang dinilai belum sepenuhnya berasal dari dunia kedirgantaraan.
Pengamat industri perjalanan dari AS, Craig Curran, menilai target waktu penerbangan tersebut tergolong ambisius. Menurutnya, pengembangan penerbangan antariksa berawak memerlukan proses panjang dan penuh tantangan teknis, sebagaimana dialami perusahaan-perusahaan AS seperti Blue Origin dan Virgin Galactic yang membutuhkan waktu lebih dari satu dekade hingga siap mengangkut manusia.
Sebagai perbandingan, SpaceX milik Elon Musk telah lebih dulu memimpin pasar pariwisata luar angkasa komersial, sementara Blue Origin besutan Jeff Bezos telah menerbangkan lebih dari 90 warga sipil ke luar angkasa sejak 2021. Meski demikian, harga tiket di AS masih sangat mahal, bahkan mencapai puluhan juta dolar AS untuk misi orbital.
InterstellOr optimistis China dapat memangkas biaya secara signifikan. CEO InterstellOr, Lei, menyebut perusahaan menargetkan pengembangan pesawat ruang angkasa berawak yang dapat digunakan kembali, sehingga harga tiket di masa depan bisa ditekan hingga 1 juta yuan, bahkan 300 ribu yuan.
Pakar antariksa dari Singapura, Lim Seng, menilai China berpotensi unggul dalam hal efisiensi biaya. Ia menyebut China bisa menjadi pemain dominan di pasar pariwisata suborbital regional, meski pasar global tetap bersifat terbatas karena mahalnya biaya.
Sementara itu, peneliti senior CSIS Washington, Clayton Swope, memprediksi pariwisata luar angkasa akan tetap menjadi ceruk eksklusif bagi kalangan tertentu. Ia menilai kecil kemungkinan wisatawan AS dan China akan saling bersaing dalam satu pasar yang sama. (Dta)















