Perubahan Sikap Anak Bisa Jadi Sinyal Bahaya: Pentingnya Deteksi Dini Kesehatan Mental

- Redaksi

Rabu, 4 Februari 2026 - 21:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Porosjambimedia.comKesehatan mental anak masih kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa sangat serius bila tidak ditangani sejak awal. Kasus meninggalnya seorang anak usia sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur kembali mengingatkan pentingnya peran orang dewasa dalam mengenali tanda-tanda gangguan psikologis pada anak.

Spesialis kesehatan jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa perubahan perilaku merupakan indikator paling awal yang sering muncul ketika anak mengalami tekanan emosional berat.

“Perubahan sikap anak adalah alarm utama. Anak yang sebelumnya ceria lalu menjadi menarik diri, pendiam, mudah marah, atau sering terlihat sedih perlu segera diperhatikan,” ujarnya.

Tanda Awal Gangguan Psikologis pada Anak

Menurut dr Lahargo, anak yang sedang mengalami beban mental biasanya tidak langsung mengungkapkan perasaannya secara jelas. Namun, sinyal-sinyal berikut kerap muncul secara perlahan:

1. Menarik diri dari lingkungan sosial dan enggan bermain

2. Perubahan emosi yang drastis, seperti mudah menangis atau marah

3. Gangguan tidur, mimpi buruk berulang, atau sulit beristirahat

4. Penurunan prestasi akademik dan kehilangan minat belajar

Baca Juga :  Dua Warga Denpasar Sempat Terpapar Super Flu, Kini Telah Pulih

5. Muncul ucapan bernada putus asa atau merasa tidak berharga

“Sebagian besar anak sebenarnya sudah memberi tanda bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Sayangnya, sinyal ini sering dianggap remeh atau dianggap sebagai fase biasa,” jelasnya.

Peran Keluarga dalam Pencegahan 

Lingkungan keluarga menjadi benteng pertama dalam menjaga kesehatan mental anak. Orang tua diharapkan tidak hanya berperan sebagai pemberi aturan, tetapi juga sebagai tempat aman bagi anak untuk bercerita.

Orang tua disarankan:

1. Membangun komunikasi emosional yang hangat

2. Mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi

3. Memvalidasi emosi sebelum memberi solusi

4. Tidak ragu mencari bantuan profesional bila diperlukan

“Mencari pertolongan bukan tanda kegagalan orang tua, justru itu bentuk tanggung jawab,” tambah dr Lahargo.

Sekolah dan Lingkungan Juga Punya Tanggung Jawab 

Pencegahan tidak bisa dibebankan pada keluarga saja. Sekolah memiliki peran besar melalui guru dan sistem pendukung yang ada.

Guru perlu dibekali kemampuan mengenali tanda distres psikologis dan melakukan pertolongan pertama secara mental. Selain itu, sekolah perlu mengaktifkan layanan konseling dan menumbuhkan budaya yang aman serta bebas perundungan.

Baca Juga :  Kasus Campak Meningkat di Jambi, RSUD Raden Mattaher Siapkan Ruang Isolasi dan ICU Khusus

Di tingkat masyarakat dan negara, perluasan akses layanan kesehatan jiwa, edukasi kesehatan mental sejak usia dini, serta kebijakan yang peka terhadap tekanan sosial dan ekonomi keluarga menjadi langkah penting.

Kesehatan Mental Bisa Dijaga dan Dicegah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kasus bunuh diri dapat dicegah melalui deteksi dini, sistem dukungan yang kuat, serta lingkungan yang aman secara emosional.

Jika anak atau anggota keluarga menunjukkan tanda gangguan mental yang semakin berat, segera konsultasikan dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater. Layanan konseling gratis juga tersedia melalui platform kesehatan mental resmi di Indonesia. (Khy)

Berita Terkait

Kemenag Kerinci Matangkan Persiapan Pelaksanaan OMI Tingkat Kabupaten Tahun 2026
Kenali BPA pada Wadah Air Minum, Ini Langkah Bijak untuk Menjaga Keamanan Keluarga
4 Tips Cegah Kolesterol Naik Saat Idul Adha, Tetap Bisa Nik
Rutin Jalan Kaki 5.000 Langkah Setiap Pagi, Ini 2 Manfaat Besarnya untuk Kesehatan
5 Manfaat Sarapan 2 Telur Rebus Setiap Hari, dari Energi hingga Kesehatan Otak
Tumit Kasar dan Pecah-pecah? Ini 3 Cara Praktis Rekomendasi Doris Day
Manfaat dan Kandungan Gizi Ubi Rebus, Benarkah Cocok untuk Diet?
Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis di Sungai Penuh, Pendaftaran Dibuka Hingga Juni 2026
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB