Oleh: Randi Vitora
Kerinci, Porosjambimedia.com – Saya dan orang tua saya lahir dan tumbuh di Kerinci. Saya melihat sendiri bagaimana masyarakat kita hidup berdampingan dengan alam; berladang di hutan dan menjadi nelayan di Danau Kerinci. Bagi kami, Danau Kerinci bukan hanya genangan air yang luas. Ia adalah bukti kemurahan hati alam pada manusia. Ia memberi makan nelayan, mengairi sawah, dan menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya kita sebagai manusia Kerinci.
Namun akhir-akhir ini, kita disuguhkan pemandangan yang pilu. Air danau menjauh, menyusut, dan meninggalkan hamparan bebatuan serta tanah yang mulai mengering.
Pihak BWSS sudah bicara: ini adalah dampak uji coba turbin PLTA Kerinci Merangin Hidro (KMH). Tapi bagi seorang nelayan yang perahunya kini kandas di lumpur, atau bagi ibu-ibu yang sawahnya terancam kering, jawaban “teknis” itu tidak bisa mengisi piring makan mereka.
Ada pertanyaan besar yang terus menghantui kepala saya, bahkan mungkin juga kepala saudara semua: Tahap uji coba saja sudah begini, lantas bagaimana jika nanti mereka benar-benar beroperasi penuh?
Logikanya sederhana tapi sangat mengerikan. Jika di tahap pengujian saja air danau sudah menyusut sejauh ini hingga perahu nelayan kandas dan sawah terancam, apakah nanti ketika turbin-turbin itu berputar maksimal kita masih bisa melihat Danau Kerinci yang sama? Ataukah danau kebanggaan kita ini hanya akan disulap menjadi sekadar “kolam cadangan” industri, sementara rakyatnya hanya menonton dari kejauhan?
Perlu saya tegaskan, kami tidak anti terhadap pembangunan. Kami paham bahwa kemajuan daerah membutuhkan investasi dan energi. Namun, kami menginginkan pembangunan yang melihat pada keadilan ekologis. Pembangunan tidak boleh hanya menghitung keuntungan di atas kertas sementara ekosistem di lapangan hancur pelan-pelan. Keadilan ekologis berarti hak alam dan hak masyarakat lokal untuk tetap hidup sejahtera tidak boleh dikorbankan demi putaran turbin semata.
Kita tidak boleh terbuai dengan alasan “hanya sementara” atau “sedang teknis”. Dampak lingkungan tidak mengenal istilah sementara. Sekali ekosistemnya rusak dan mata pencaharian warga terganggu, butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya—itu pun jika bisa.
Investasi besar dari PLTA KMH seharusnya membawa terang bagi rumah-rumah kita, bukan malah membawa kegelapan bagi masa depan danau kita. Jangan sampai demi mengejar target operasional, marwah dan kedaulatan air masyarakat Kerinci dikorbankan.
Pihak perusahaan dan otoritas terkait jangan hanya sibuk di ruang kendali turbin. Turunlah ke pinggir danau, lihat lumpur yang mengering, dan jawab pertanyaan kami: Kompensasi apa yang sebanding dengan hilangnya air kami? Dan jaminan apa yang bisa diberikan agar danau ini tidak mati saat kalian mulai beroperasi penuh nanti?
Karena bagi kami, Danau Kerinci bukan cuma soal debit air untuk memutar turbin. Danau ini adalah hidup kami.















