Jakarta, Porosjambimedia.com – Pemerintah Meksiko sedang melakukan peninjauan mendalam terhadap kebijakan pengiriman minyak ke Kuba setelah kekhawatiran meningkat di lingkup kabinet Presiden Claudia Sheinbaum bahwa langkah tersebut bisa memicu reaksi tajam dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kebijakan ini muncul di latar kondisi baru di mana Venezuela telah berhenti menyuplai minyak ke Kuba, akibat blokade AS terhadap kapal tanker dan penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro. Situasi itu membuat Kuba semakin bergantung pada minyak dari Meksiko, yang kini menjadi pemasok minyak terbesar bagi negara Karibia tersebut.
Trump sendiri telah menyampaikan retorika keras melalui unggahan di platform Truth Social, menyatakan bahwa tidak akan ada lagi minyak atau dukungan finansial yang mengalir ke Kuba, sambil menekan kebijakan AS terhadap negeri itu.
Secara publik, Presiden Sheinbaum menegaskan bahwa pengiriman minyak tersebut berdasarkan kontrak jangka panjang dan dianggap sebagai bantuan kemanusiaan internasional, namun sumber-sumber senior di pemerintahan menyatakan bahwa kebijakan ini kini sedang ditinjau secara internal guna menghindari potensi ketegangan baru dengan Washington.
Selain kekhawatiran diplomatik, beberapa pejabat Meksiko juga mencatat peningkatan aktivitas drone angkatan laut AS di atas Teluk Meksiko, yang dinilai menunjukkan intensifikasi pengawasan militer Amerika di wilayah yang menjadi rute kapal-kapal pengangkut minyak itu.
Sementara itu, laporan lain menyebut bahwa pemerintahan AS bahkan mempertimbangkan langkah yang lebih jauh termasuk blokade laut penuh untuk menghentikan impor minyak ke Kuba, sebagai bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap rezim Havana. (Dta)














