KADUNA, Porosjambimedia.com– Aksi teror kembali mengguncang Nigeria setelah kelompok bersenjata menyerbu dua gereja di negara bagian Kaduna pada Minggu (19/1/2026). Dalam serangan tersebut, sedikitnya 163 jemaat diculik dan dibawa ke lokasi yang belum diketahui.
Menurut laporan kantor berita AFP, para pelaku datang dalam jumlah besar dan mengepung area gereja saat ibadah sedang berlangsung. Mereka menutup seluruh akses keluar sebelum memaksa para jemaat berjalan menuju kawasan semak di luar desa.
Pendeta Joseph Hayab, Ketua Asosiasi Kristen Nigeria wilayah utara, mengungkapkan bahwa jumlah korban sempat tercatat 172 orang. Namun sembilan di antaranya berhasil melarikan diri tak lama setelah penculikan terjadi.
“Para penyerang bergerak terorganisir. Mereka memblokir pintu masuk dan mengendalikan situasi dengan senjata. Jemaat tidak punya kesempatan untuk melawan,” ujar Hayab kepada media setempat, Senin (19/1/2026).
Laporan internal Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mengonfirmasi adanya penculikan massal di wilayah tersebut dan memperingatkan potensi serangan lanjutan di daerah terpencil Kaduna.
Aksi ini terjadi di desa Kurmin Wali, distrik Kajuru, kawasan yang dikenal memiliki mayoritas penduduk beragama Kristen. Nigeria sendiri merupakan negara dengan komposisi penduduk yang hampir seimbang antara Muslim di utara dan Kristen di selatan, sehingga kerap menjadi titik panas konflik bernuansa agama maupun kriminal.
Gelombang penculikan oleh kelompok bandit bersenjata memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Motif utamanya adalah permintaan tebusan serta penjarahan desa-desa terpencil.
Pada November 2025, lebih dari 300 siswa dan guru dari sebuah sekolah Katolik di negara bagian Niger juga sempat disandera. Mereka baru dibebaskan secara bertahap setelah proses negosiasi panjang.
Situasi keamanan di Nigeria turut mendapat sorotan internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa kali menekan pemerintah Abuja untuk memberi perlindungan lebih terhadap komunitas Kristen yang kerap menjadi sasaran.
Di penghujung Desember lalu, militer AS bahkan melancarkan serangan udara terhadap kelompok yang diduga berafiliasi dengan Negara Islam di wilayah Sokoto, sebagai bagian dari dukungan terhadap operasi kontra-terorisme Nigeria.
Hingga kini, aparat keamanan setempat masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku dan berupaya membuka jalur komunikasi demi menyelamatkan ratusan korban yang tersisa. (Dta)















