Washington DC , Porosjambimedia.com– Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa sejumlah warga Kuba dilaporkan meninggal dunia dalam operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menurut Trump, korban tersebut berasal dari pihak Kuba yang selama ini memiliki hubungan erat dengan pemerintah Venezuela.
Mengutip laporan AFP pada Minggu (4/1/2026), Venezuela dan Kuba dikenal sebagai sekutu lama di kawasan Amerika Latin. Kedua negara tersebut menganut ideologi komunis dan sama-sama menghadapi tekanan berupa sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, Kuba disebut sangat bergantung pada Venezuela, khususnya dalam hal bantuan ekonomi dan pasokan energi. Menjelang operasi militer AS pada Sabtu (3/1), sejumlah media Amerika melaporkan bahwa Maduro mendapat perlindungan ketat dari penasihat serta pengawal asal Kuba.
Hingga saat ini, baik pemerintah Venezuela maupun Amerika Serikat belum mengumumkan secara resmi jumlah korban jiwa dalam operasi tersebut. Trump hanya memastikan bahwa tidak ada warga negara Amerika Serikat yang menjadi korban.
Dalam wawancaranya dengan The New York Post, Trump menyatakan bahwa banyak warga Kuba tewas karena berupaya melindungi Maduro. Ia menilai tindakan tersebut sebagai keputusan yang keliru.
Trump juga menyinggung ketergantungan Kuba terhadap Venezuela, terutama dari sisi ekonomi. Menurutnya, hubungan tersebut justru membawa dampak buruk bagi Kuba dalam situasi ini.
Selain itu, Trump menyampaikan peringatan kepada pemerintah Kuba di Havana. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki rencana untuk melakukan serangan terhadap Kuba dan mengklaim bahwa negara tersebut tengah menghadapi kondisi internal yang sulit. (Dta)














