Jakarta, Porosjambimedia.com – Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan menghadapi tekanan menjelang akhir tahun 2025. Pada sisa hari perdagangan terakhir sebelum Tahun Baru 2026, mata uang Negeri Paman Sam diproyeksikan bergerak melemah seiring perubahan sentimen pasar global.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan indeks Dolar berpotensi turun hingga mendekati level 97,5. Sementara itu, terhadap rupiah, Dolar diprediksi bergerak dalam rentang Rp16.740 hingga Rp16.820, dengan kecenderungan fluktuasi terbatas akibat minimnya aktivitas pasar selama libur panjang.
Menurut Ibrahim, pelemahan Dolar tidak terlepas dari melemahnya data ekonomi Amerika Serikat, khususnya laju inflasi yang terus menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan kembali mengambil kebijakan pelonggaran moneter.
“Inflasi yang melandai menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa suku bunga acuan masih berpotensi diturunkan di awal 2026,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (28/12/2025).
Selain faktor data ekonomi, dinamika kebijakan moneter AS juga dipengaruhi oleh perubahan kepemimpinan The Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan 2026. Pasar menilai kepemimpinan baru berpeluang mengadopsi kebijakan suku bunga rendah demi mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ibrahim menambahkan, ekspektasi pasar semakin menguat dengan adanya dorongan politik agar The Fed lebih akomodatif terhadap pemulihan ekonomi domestik. Sentimen ini membuat Dolar kurang menarik sebagai aset lindung nilai jangka pendek.
Dengan berbagai faktor tersebut, pasar keuangan global diperkirakan akan tetap berhati-hati hingga memasuki awal tahun 2026, sembari menunggu arah kebijakan moneter lanjutan dari Amerika Serikat. (Hst)















