Ketika Semangat Hidup Mati Perlahan

- Redaksi

Kamis, 21 Mei 2026 - 01:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Muhammad Arjuna Pase 

Porosjambimedia.com – Ada fase paling sunyi dalam hidup manusia yakni ketika tubuh masih berjalan, tetapi jiwanya sudah lelah bertarung. Tidak semua luka terlihat. Tidak semua orang yang tersenyum benar-benar bahagia. Dan tidak semua orang yang diam berarti baik-baik saja.

Saya, Muhammad Arjuna Pase, pernah berada di titik itu masa ketika semangat hidup terasa hilang sedikit demi sedikit. Bukan karena tidak punya mimpi, tetapi karena terlalu banyak kenyataan yang memaksa hati belajar keras tentang kecewa. Dunia hari ini terlalu berisik memaksa manusia menjadi sempurna. Semua orang berlomba terlihat berhasil, kuat, kaya, dan bahagia. Media sosial menjadikan pencapaian sebagai perlombaan, sementara banyak orang diam-diam sedang berada dan berperang dengan dirinya sendiri.

Ironisnya, manusia sekarang lebih takut terlihat gagal dibanding kehilangan dirinya sendiri.

Kita hidup di zaman ketika orang mudah memberi motivasi, tetapi jarang mau memahami. Semua menyuruh bertahan, akan tetapi sedikit yang bertanya, “Seberapa lelah dirimu?” Padahal kehilangan semangat bukan tentang lemahnya seseorang. Terkadang itu lahir dari terlalu lama memendam kecewa, terlalu sering diremehkan, dan terlalu banyak memikul beban sendirian.

Baca Juga :  Akibat Sebar Berita Hoax di Akun Facebook seorang Ibu Rumah tangga di Kerinci Di Amankan Polsek Air Hangat Timur.

Saya belajar satu hal, hidup tidak selalu adil kepada orang baik. Ada orang yang tulus tetapi dikhianati. Ada orang yang berjuang tetapi dilupakan. Bahkan ada orang yang diam-diam hancur hanya untuk terlihat kuat di depan banyak orang.

Llo0

Namun justru di titik paling gelap itulah manusia diuji, apakah dia memilih menyerah, atau tetap berjalan meski tertatih.

Dalam Filosofi Teras, Henry Manampiring menulis tentang bagaimana manusia tidak bisa mengendalikan semua hal dalam hidupnya. Kita tidak bisa mengatur bagaimana dunia memperlakukan kita, tetapi kita bisa menentukan bagaimana cara kita bangkit setelah dihancurkan keadaan.

Saya percaya, kehilangan arah bukan akhir dari perjalanan. Kadang Tuhan menghancurkan semangat kita terlebih dahulu agar kita belajar membangun diri dengan cara yang lebih kuat. Sebab manusia yang pernah jatuh hingga titik terendah biasanya akan memahami arti hidup lebih dalam dibanding mereka yang selalu berada dli atas.

Ada kutipan dari Atomic Habits karya James Clear yang begitu menampar berbunyi, “ besar berasal dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.”

Baca Juga :  COP30 dan Kepentingan Tersembunyi indonesia di Balik Diplomasi Iklim

Artinya, bangkit tidak harus langsung hebat. Kadang cukup dengan bertahan satu hari lagi. Cukup dengan tidak menyerah hari ini. Karena orang-orang besar tidak lahir dari hidup yang mudah, tetapi dari luka yang berhasil mereka taklukkan.

Hari ini saya memahami bahwa semangat hidup tidak selalu datang dari kemenangan. Kadang dia lahir dari rasa sakit yang berhasil dilewati. Dan mungkin benar, manusia paling kuat bukanlah mereka yang tidak pernah hancur, melainkan mereka yang tetap memilih hidup meski berkali-kali dipatahkan keadaan.

Untuk siapa pun yang sedang kehilangan semangat: jangan buru-buru menyerah hanya karena hidup belum berpihak. Tidak semua proses indah berjalan cepat. Dan tidak semua perjuangan langsung dihargai manusia.

Sebab pada akhirnya, dunia hanya melihat hasil. Tetapi Tuhan melihat seluruh perjuangan yang tidak pernah diceritakan. (Hst,l

Berita Terkait

Menerka Karakter Manusia Kerinci
PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
‎Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ
Himsak Kecam Gubernur Jambi: Jangan Sulap Bencana Menjadi Laporan Pencitraan di Hadapan Presiden
Menagih Komitmen Tata Kelola Lingkungan di Mendalo Darat
Selamat Jalan H. Bakri: Jambi Kehilangan Putra Terbaik, IKAMI Kehilangan Sosok Pengayom
LBH NADI Perkuat Sinergi dengan BNNP Jambi, Soroti Modus Baru “Pod Getar” dan Dorong Penguatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB