Kenya, Porosjambimedia.com – Perdagangan ilegal satwa kembali menjadi sorotan setelah kasus penyelundupan semut langka bernilai tinggi terungkap. Seekor ratu semut jenis Messor cephalotes bahkan bisa dihargai hingga USD 220 atau sekitar Rp 3,7 juta di pasar gelap.
Kasus ini mencuat setelah seorang warga China, Zhang Kequn, ditangkap di Bandara Nairobi karena membawa sekitar 2.200 ekor semut hidup. Pengadilan kemudian menjatuhkan denda sebesar 1 juta shilling atau hukuman penjara 12 bulan atas upaya penyelundupan tersebut.
Hakim Irene Gichobi menegaskan bahwa hukuman ini diperlukan sebagai efek jera, mengingat meningkatnya praktik perdagangan semut yang berpotensi merusak ekosistem.
Diminati Kolektor dan Peneliti
Semut jenis ini banyak diminati oleh kolektor, terutama di Asia, untuk dipelihara dalam wadah transparan yang disebut formikarium. Koloni semut dipelajari karena struktur sosialnya yang kompleks serta perilaku unik dalam mengumpulkan makanan.
Ratu semut menjadi bagian paling berharga karena mampu membangun koloni besar yang dapat bertahan hingga puluhan tahun. Dalam satu koloni, jumlah semut bisa mencapai ratusan ribu ekor.
Modus Perdagangan Ilegal
Perburuan semut biasanya meningkat saat musim hujan di wilayah Gilgil dan sekitarnya. Pada periode ini, ratu semut keluar untuk berkembang biak, sehingga mudah ditangkap.
Para pelaku biasanya mengemas semut dalam tabung kecil atau alat suntik dengan kapas lembap agar tetap hidup selama pengiriman. Metode ini membuat semut sulit terdeteksi saat pemeriksaan.
Kasus besar juga pernah terungkap di Naivasha, di mana sekitar 5.000 ratu semut ditemukan di sebuah penginapan. Semut-semut tersebut rencananya akan dikirim ke pasar Eropa dan Asia.
Ancaman bagi Ekosistem
Ahli biologi Kenya, Dino Martins, mengaku terkejut dengan skala perdagangan semut yang semakin meluas. Ia menyebut fenomena ini sebagai pergeseran tren kejahatan satwa liar, dari perburuan gading gajah dan cula badak ke spesies yang lebih kecil namun bernilai tinggi.
Meski terlihat sederhana, semut memainkan peran penting dalam ekosistem, termasuk dalam penyebaran biji dan menjaga keseimbangan tanah. Perdagangan ilegal dalam jumlah besar berpotensi mengganggu keseimbangan tersebut.
“Semut ini sangat menarik, mereka membangun koloni besar, mudah dipelihara, dan tidak agresif. Namun jika dieksploitasi berlebihan, dampaknya bisa serius bagi lingkungan,” ujarnya. (Hst)















