Jakarta, Porosjmabimedia.com – Sebuah tambang batu bara ilegal di negara bagian Meghalaya, India timur laut, dilaporkan mengalami ledakan hebat yang menewaskan sedikitnya 18 orang. Insiden tragis tersebut juga menyebabkan sejumlah penambang lainnya mengalami luka-luka.
Polisi setempat menyatakan bahwa hingga akhir operasi penyelamatan, 18 jenazah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian. Informasi itu disampaikan dalam pernyataan resmi kepolisian yang dikutip dari AFP, Jumat (6/2/2026).
Pejabat distrik East Jaintia Hills, Manish Kumar, mengungkapkan delapan orang lainnya mengalami luka akibat ledakan tersebut. Tim penyelamat sempat melakukan penggalian puing-puing untuk memastikan tidak ada korban lain yang terjebak, namun proses pencarian terpaksa dihentikan sementara karena kondisi gelap.
Menurut Kumar, tambang yang meledak merupakan tambang ilegal jenis “lubang tikus”, yakni metode penambangan dengan lubang vertikal sempit yang bercabang menjadi terowongan kecil untuk mengakses batu bara. Metode ini dikenal sangat berbahaya dan berisiko tinggi bagi keselamatan pekerja.
Penambangan lubang tikus sendiri telah dilarang oleh pengadilan lingkungan federal India sejak 2014 karena dinilai mencemari lingkungan dan membahayakan nyawa. Meski demikian, praktik tersebut masih marak dilakukan secara ilegal di beberapa wilayah Meghalaya.
Kepala polisi distrik, Vikash Kumar, menyebut ledakan diduga dipicu oleh penggunaan dinamit di dalam tambang. Ledakan tersebut kemudian memicu kebakaran dan menyebabkan akumulasi gas beracun di area tambang. Investigasi forensik masih dilakukan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Menteri Utama Meghalaya, Conrad K. Sangma, telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh dan menegaskan akan ada tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa tersebut dan mendoakan kesembuhan bagi para korban luka. Pemerintah juga memastikan keluarga korban meninggal dunia akan menerima kompensasi sebesar 200.000 rupee atau sekitar 2.216 dolar AS per keluarga. (Dta)















