Jakarta, Porosjambimedia.com – Kesehatan mental anak masih kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa sangat serius bila tidak ditangani sejak awal. Kasus meninggalnya seorang anak usia sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur kembali mengingatkan pentingnya peran orang dewasa dalam mengenali tanda-tanda gangguan psikologis pada anak.
Spesialis kesehatan jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa perubahan perilaku merupakan indikator paling awal yang sering muncul ketika anak mengalami tekanan emosional berat.
“Perubahan sikap anak adalah alarm utama. Anak yang sebelumnya ceria lalu menjadi menarik diri, pendiam, mudah marah, atau sering terlihat sedih perlu segera diperhatikan,” ujarnya.
Tanda Awal Gangguan Psikologis pada Anak
Menurut dr Lahargo, anak yang sedang mengalami beban mental biasanya tidak langsung mengungkapkan perasaannya secara jelas. Namun, sinyal-sinyal berikut kerap muncul secara perlahan:
1. Menarik diri dari lingkungan sosial dan enggan bermain
2. Perubahan emosi yang drastis, seperti mudah menangis atau marah
3. Gangguan tidur, mimpi buruk berulang, atau sulit beristirahat
4. Penurunan prestasi akademik dan kehilangan minat belajar
5. Muncul ucapan bernada putus asa atau merasa tidak berharga
“Sebagian besar anak sebenarnya sudah memberi tanda bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Sayangnya, sinyal ini sering dianggap remeh atau dianggap sebagai fase biasa,” jelasnya.
Peran Keluarga dalam Pencegahan
Lingkungan keluarga menjadi benteng pertama dalam menjaga kesehatan mental anak. Orang tua diharapkan tidak hanya berperan sebagai pemberi aturan, tetapi juga sebagai tempat aman bagi anak untuk bercerita.
Orang tua disarankan:
1. Membangun komunikasi emosional yang hangat
2. Mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi
3. Memvalidasi emosi sebelum memberi solusi
4. Tidak ragu mencari bantuan profesional bila diperlukan
“Mencari pertolongan bukan tanda kegagalan orang tua, justru itu bentuk tanggung jawab,” tambah dr Lahargo.
Sekolah dan Lingkungan Juga Punya Tanggung Jawab
Pencegahan tidak bisa dibebankan pada keluarga saja. Sekolah memiliki peran besar melalui guru dan sistem pendukung yang ada.
Guru perlu dibekali kemampuan mengenali tanda distres psikologis dan melakukan pertolongan pertama secara mental. Selain itu, sekolah perlu mengaktifkan layanan konseling dan menumbuhkan budaya yang aman serta bebas perundungan.
Di tingkat masyarakat dan negara, perluasan akses layanan kesehatan jiwa, edukasi kesehatan mental sejak usia dini, serta kebijakan yang peka terhadap tekanan sosial dan ekonomi keluarga menjadi langkah penting.
Kesehatan Mental Bisa Dijaga dan Dicegah
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kasus bunuh diri dapat dicegah melalui deteksi dini, sistem dukungan yang kuat, serta lingkungan yang aman secara emosional.
Jika anak atau anggota keluarga menunjukkan tanda gangguan mental yang semakin berat, segera konsultasikan dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater. Layanan konseling gratis juga tersedia melalui platform kesehatan mental resmi di Indonesia. (Khy)















