Aktivis Pembongkar Kamp Uighur Terancam Dipulangkan Paksa ke China

- Redaksi

Rabu, 14 Januari 2026 - 10:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Porosjambimedia.com– Nasib Heng Guan, seorang aktivis asal China yang membongkar keberadaan fasilitas penahanan di Xinjiang, kini berada di ujung tanduk. Pria berusia 38 tahun itu telah berbulan-bulan ditahan oleh Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE), di tengah upaya pemerintah AS untuk mengoperasikannya.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) sebelumnya mengajukan permohonan agar Guan dideportasi ke negara ketiga, Uganda, melalui skema migran lintas negara. Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah memicu kekhawatiran serius di Washington. Meski begitu, ICE tetap mendorong agar Guan dipulangkan langsung ke China, menurut keterangan pengacaranya, Chuangchuang Chen.

Guan mengaku deportasi ke China sama artinya dengan hukuman mati baginya. Ia meyakini akan langsung dipenjara karena aktivitasnya mengungkap dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap muslim Uighur.

“Saya lebih memilih mati daripada kembali ke China dan dipenjara,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dari pusat penahanan ICE.

Guan memasuki Amerika Serikat pada 2021 setelah melarikan diri melalui jalur laut dari Bahama. Sebelumnya, ia membuat video dokumentasi berdurasi sekitar 20 menit yang memperlihatkan lokasi-lokasi penahanan di Xinjiang, yang ia sebut sebagai bukti penahanan massal oleh pemerintah China.

Pencari Suaka yang Terjebak Ketidakpastian

Sebelum ditangkap pada Agustus 2025, Guan menjalani hidup sederhana di New York dengan bekerja sebagai sopir Uber dan pengemudi truk. Ia mengaku memiliki izin kerja resmi sambil menunggu proses permohonan suakanya.

Baca Juga :  Tiga Warga Palestina Dilaporkan Tewas Ditembak Pasukan Israel di Gaza Selatan

“Saya tidak menyangka akan ditangkap. Saya pikir status saya masih legal,” katanya.

Meski telah menunjukkan dokumen izin kerja dan surat izin mengemudi, agen ICE tetap menangkap dan memindahkannya ke beberapa fasilitas penahanan. Sejak saat itu, Guan terus ditahan setelah hakim imigrasi menolak permohonan jaminan kebebasannya.

Kasus ini menuai perhatian luas, termasuk dari anggota Kongres AS dan organisasi HAM. Lembaga Human Rights in China secara terbuka menyuarakan kekhawatiran atas risiko tinggi penyiksaan dan persekusi jika Guan dipulangkan ke China.

Namun, pengacaranya menegaskan bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan hakim imigrasi.

Dari Vlogger Perjalanan Menjadi Saksi Pelanggaran HAM

Guan lahir dan dibesarkan di Provinsi Henan, China tengah. Awalnya ia hanyalah pekerja pabrik dan ladang minyak yang gemar fotografi dan membuat vlog perjalanan.

Perjalanannya ke Xinjiang pada 2019 mengubah segalanya. Ia mengaku merasakan atmosfer sosial yang menekan, dengan pengawasan ketat dan pembatasan ekstrem.

Setelah membaca laporan investigatif media internasional berbasis citra satelit, Guan kembali ke Xinjiang untuk merekam langsung lokasi-lokasi yang diduga sebagai kamp penahanan.

“Saat saya sadar jurnalis asing sulit masuk ke Xinjiang, saya merasa punya kewajiban moral untuk menjadi saksi,” katanya.

Ia menyadari bahwa merilis video tersebut berarti mempertaruhkan keselamatannya. Karena itu, Guan memutuskan meninggalkan China dan mencari perlindungan ke luar negeri, sebelum akhirnya memilih Amerika Serikat sebagai tujuan akhir.

Baca Juga :  Sanae Takaichi Catat Sejarah, Jadi Perdana Menteri Perempuan Pertama Jepang

Video yang diunggahnya kemudian menjadi referensi penting bagi peneliti dan aktivis HAM internasional dalam memverifikasi keberadaan fasilitas penahanan di Xinjiang.

• Tekanan terhadap Keluarga

Ibu Guan, Yun Luo, yang kini tinggal di Taiwan, datang ke AS untuk mendampingi putranya dalam persidangan. Ia mengungkapkan bahwa keluarga mereka di China telah diinterogasi aparat dan memutuskan komunikasi.

“Ini sangat menyakitkan. Kami dulu rutin berkomunikasi, sekarang semuanya terputus,” ujarnya.

Informasi pribadi Guan juga disebut telah bocor di internet, memicu kekhawatiran akan tekanan berkelanjutan dari pihak berwenang China.

Meski menghadapi ancaman deportasi, Guan tetap menilai Amerika Serikat sebagai simbol kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Kebebasan seperti ini tidak pernah saya miliki di China,” ujarnya. “Saya hanya datang di waktu yang kurang beruntung, ketika kebijakan imigrasi sedang sangat keras.” (dta)

Berita Terkait

QRIS Terus Mendunia, BI Siapkan Ekspansi Pembayaran Digital ke Hong Kong, India hingga Arab Saudi
10 Hari Tertimbun Lumpur, Perempuan 64 Tahun di Nepal Ditemukan Selamat oleh Tim Penyelamat
Agnez Mo Curi Perhatian di Serial Reacher, Penampilan Awet Muda Jadi Sorotan Penonton Dunia
Pesawat Sipil Jatuh di Fasilitas Radar AS di Alaska, Delapan Penumpang Dipastikan Meninggal
S&P Proyeksikan Rupiah Menguat ke Rp17.700 per Dolar AS pada 2026
Laporan ITE 4 Bulan Mengendap, Pelapor Akhirnya Dihubungi penyidik Polres Sarolangun
Patung Raksasa Lionel Messi di India Akan Dipindahkan Setelah Bergoyang Diterpa Angin
HIPMI Jambi Dukung Ekspor Kopi Kerinci ke Mesir, Melalui pelabuhan Talang duku, Generasi Muda Diajak Tembus Pasar Global
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB