ACEH, PorosJambiMedia.com — Jagat maya digemparkan dengan kisah menyayat hati dari Safitri, seorang ibu dua anak asal Aceh Singkil, yang membagikan curahan hatinya usai ditinggalkan oleh sang suami tak lama setelah pria itu dinyatakan lulus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Dalam video yang diunggah melalui akun Safitri Alshop Aceh, tampak sang istri tengah berkemas sambil menangis, ditemani dua anak kecil dan para tetangga yang berusaha menenangkannya. Video berdurasi beberapa menit itu memperlihatkan suasana haru saat ia meninggalkan rumah untuk kembali ke kampung halamannya.
Unggahan tersebut kemudian viral dan mendapat ribuan komentar dari pengguna media sosial yang mengungkapkan empati sekaligus kekecewaan terhadap tindakan sang suami.
Dalam keterangan yang ditulis di media sosial, Safitri mengungkapkan bahwa perceraian terjadi dua hari sebelum suaminya menerima SK PPPK yang menugaskannya di Satpol PP dan WH Aceh Singkil.
“Dulu kamu melamarku dengan cara baik-baik kepada orang tuaku. Tapi sekarang kamu membuang aku dan anak-anak di kampung halamanmu,” tulis Safitri dalam unggahan berbahasa Aceh yang kemudian diterjemahkan warganet.
Ia juga menuturkan bahwa selama bertahun-tahun ia mendampingi suaminya dari nol, ikut bekerja membantu ekonomi keluarga, bahkan menjual hasil kebunnya untuk membeli perlengkapan pelantikan PPPK.
“Baju Korpri untuk pelantikan itu hasil dari jualan cabe dan sayuranku. Tapi aku tak menyangka, setelah lulus, dia meninggalkan aku dan anak-anak,” tulisnya dengan nada pilu.
Unggahan Safitri langsung menyita perhatian publik. Banyak yang merasa prihatin atas nasibnya dan mengapresiasi keberaniannya berbicara secara terbuka.
Sejumlah warganet menuliskan dukungan moral, seperti:
“Awal mula yang bantu berjuang, akhirnya ditinggal. Sabar ya, Kak. Tuhan tidak tidur,” tulis akun @karmilakoto.
“Kalau ada PPPK yang sombong dan menelantarkan keluarganya, sebaiknya ditinjau lagi statusnya,” ujar akun @rahmanabdul.
“Semoga Kak Safitri dan anak-anak diberi kekuatan dan rezeki yang berlimpah,” tambah akun @rahmadaniartini_bay.
Kisah ini juga memicu diskusi luas mengenai etika dan tanggung jawab moral bagi para aparatur sipil negara, terutama mereka yang baru meniti karier di pemerintahan.
Dalam unggahannya, Safitri menyebut telah melapor ke berbagai pihak untuk meminta keadilan, namun belum mendapatkan hasil yang jelas. Ia berharap ada perhatian dari pihak berwenang agar kejadian serupa tidak terulang.
“Saya sudah melapor ke sana kemari, tapi belum ada hasil. Mohon keadilan, karena saya merasa dizalimi,” ujarnya.
Safitri menegaskan bahwa dirinya berusaha ikhlas atas peristiwa tersebut, namun berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang.
“Berbahagialah atas penderitaan kami. Aku ikhlas, tapi aku juga berhak bicara,” tutupnya.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak suami maupun instansi tempatnya bertugas. Namun, sejumlah aktivis perempuan di Aceh menilai kasus ini patut ditelusuri lebih lanjut karena menyangkut etika dan tanggung jawab sosial ASN PPPK.
Kisah ini pun menjadi refleksi bahwa di balik euforia kelulusan PPPK, masih banyak persoalan rumah tangga yang perlu mendapat perhatian publik dan pemerintah. (Hst)
Sumber Berita : Brilio.net















