Oleh: Harul Mukri Ananta
Kerinci, Porosjambimedia.com – Masa kolonial di Kerinci. “Dasar keras kepala! Pembangkang!” begitulah stereotip yang diungkapkan penjajah dalam laporannya tentang Afdeeling Korintji. Laporan yang akan kita ulik dalam tulisan kali ini, juga memaparkan bagaimana karakter manusia Kerinci dalam pandangan “Tuan Aken” itu. Barangkali manusia Kerinci belum tahu karakternya sampai saat ini.
Infiltrasi yang terjadi pada Mei hingga September 1903 tersebut dikenal sebagai Ekspedisi Kerinci (Koerintji-expeditie). Berdasarkan rekonstruksi dokumen sejarah, kolonialisasi tidak hanya bergerak lewat moncong senjata, tetapi disusul oleh penaklukan epistemologis berupa pencatatan sosial-kultural masyarakat setempat.
Namun, di balik rimbunnya hutan Lolo Kecil, “orang-orang bermata biru” itu tidak menemukan ketundukan. Konflik bersenjata ini berakhir dengan jatuhnya Benteng Pulau Tengah. Puing-puing kekalahan militer inilah yang kemudian membuka jalan bagi pejabat sipil seperti Anton Philip van Aken untuk masuk dan menulis Dokumen Nota betreffende de afdeeling Koerintji (1915).
Karakter Manusia Kerinci
Manusia Kerinci adalah sebuah teka-teki sosiologis. “Hal pertama yang membedakan penduduk Kerinci dari kerabat suku sekitarnya,” tulis Van Aken dalam memorinya, “adalah (groote werkzaamheid) semangat kerja mereka yang luar biasa, yang berkelindan erat dengan sifat hemat.”
Van Aken menuliskan bahwa masyarakat Kerinci memiliki kecerdasan yang tinggi.
Ketajaman akal ini membuat mereka sangat pragmatis, dengan cepat mengenali hal-hal baru yang bermanfaat dan menguntungkan, lalu segera membuang tradisi lama jika memang diperlukan. Van Aken membuat sebuah proyeksi komparatif. Ia mengakui bahwa suku-suku tetangganya seperti orang Jambi, Bengkulu, dan Padang Rendah saat itu sudah melangkah lebih maju. Namun, karena ketajaman akal sehat dan kecepatan belajar yang dimiliki manusia Kerinci, Van Aken menegaskan bahwa ketertinggalan itu tidak akan lama.
“…en het zal niet lang meer duren of hij is den Bovenlander terzijde.” (…dan tidak akan lama lagi mereka (manusia Kerinci) akan menyusul dan berdiri sejajar dengan penduduk dataran tinggi lainnya).
Namun, jurnalisme kolonial selalu menyisipkan bias. Van Aken melayangkan kritik tajam terhadap laporan para pejabat militer terdahulu yang memberi label pada penduduk Kerinci sebagai masyarakat yang pemarah (driftig), keras kepala (koppig), dan pembangkang (recalcitrant).
Sebagai seorang administrator sipil, Van Aken melakukan dekonstruksi terhadap stereotip tersebut. Ia berargumen bahwa penentangan masyarakat Kerinci bukanlah watak genetis yang dibawa sejak lahir, melainkan sebuah respons defensif akibat kebijakan sewenang-wenang pejabat militer Hindia Belanda sebelumnya.
Namun, Tuan Aken bukanlah pengagum yang naif. Saat malam semakin larut, guratan penanya berubah menjadi pisau bedah yang dingin. Ia mencatat kegelapan yang berkelindan di balik dinding-dinding “Rumah Larik” tradisional. Di balik etos kerja yang masif, tersimpan ironi sosial yang pekat, penyalahgunaan kekuasaan, kebohongan, praktik pencurian kecil menjadi makanan sehari-hari di Kerinci.
Jika kita menarik garis sejarah tersebut ke dalam realitas kontemporer, kita akan menemukan sebuah paradoks yang melintasi zaman. Karakter positif seperti kelincahan berbisnis dan kemampuan adaptasi intelektual memang berhasil membawa putra-putri Kerinci menguasai sektor birokrasi dan perdagangan. Namun, sisi distopia yang dicatat Van Aken terbukti masih “lestari”.
Egoisme kelompok, mentalitas transaksional dalam politik lokal, dan nepotisme structural sering kali menjadi penghambat pembangunan. Lebih jauh lagi, catatan Van Aken mengenai konflik antar-dusun (verschillende doesoens vroeger met elkander in oorlog) yang dipicu oleh perebutan sejengkal tanah, di mana mereka menganggap perkelahian massal (kloppartij) sebagai olahraga musiman, dalam bentuk tawuran antar-desa di era modern. Ini adalah bukti bahwa modernitas teknologi belum sepenuhnya mencabut akar disintegrasi sosial tradisional yang purba.
Bagaimana masa depan Kerinci di tengah himpitan zaman? Van Aken memberikan sebuah kalimat nubuat yang menarik di tengah halaman 5, “Het onderwijs zal in deze veel tot verbetering kunnen bijdragen” (Pendidikan akan mampu memberikan kontribusi besar bagi perbaikan ini).
Masa depan Alam Kerinci tidak lagi ditentukan oleh tajamnya bilah keris atau keramatnya hulubalang, melainkan oleh pendidikan. Hutan-hutan yang mengepung lembah harus dipandang sebagai modal ekologis, bukan sekadar objek eksploitasi. Namun, penulis yakin dengan kesadaran kolektif dalam meninggalkan egoisme komunal dusun dan membumihanguskan penyalahgunaan kekuasaan, maka nubuat kolonial itu akan runtuh. Barulah kita bisa dengan khidmat mendengar lagu “Majeu Kincai” yang ditulis oleh Iskandar Zakaria,
Dangea lah kamai ngato
Ilok nian lah budi kayo
Kinai lah taro kinai
Samo mumbangun tanoh kincai
Dengan harapan lirik yang mengalir dari lagu ini lambat laun akan menenggelamkan streotip kolonial dan melunturkan sekat-sekat ego dusun purba.
Pada akhirnya, perjalanan menelusuri memori kolektif manusia Kerinci melalui colonial gaze Anton Philip van Aken membawa kita pada sebuah refleksi kritis. Namun, sejarah modern juga menuntut keberanian yang sama besar untuk menguliti dan membuang parasit-parasit sosial yang masih tertinggal.
Sumber:
Van Aken, A. Ph. (1915). Nota betreffende de afdeeling Koerintji. Batavia: Encyclopaedisch Bureau.
Sunliensyar, H. H. (2025). The Impact of Colonialism on Pusaka Manuscript Collections in Kerinci
Zakaria, I. (1985) / Saputra, A. et al. (2024). Perjuangan Masyarakat Adat Dan Ulama Pulau Tengah Kerinci Terhadap Kolonialisme Belanda 1901-1903.
Jurnal Sejarah Universitas Jambi. (Studi Pola Perlawanan Adat & Ulama).















