Pemimpin Viral Belum Tentu Pemimpin Ideal

- Redaksi

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: sahrul

Porosjambimedia.com – Di era digital, popularitas sering kali dianggap sebagai ukuran keberhasilan seorang pemimpin. Semakin sering muncul di media sosial, semakin dianggap dekat dengan rakyat. Video kunjungan kerja, unggahan kegiatan sosial, hingga konten-konten ringan yang menghibur menjadi strategi baru dalam membangun citra kepemimpinan. Namun di balik derasnya arus informasi tersebut, muncul pertanyaan yang layak diajukan: apakah pemimpin yang viral otomatis menjadi pemimpin yang efektif?

Fenomena ini semakin terasa ketika masyarakat lebih mengenal aktivitas media sosial seorang pejabat dibanding capaian kebijakan yang telah dihasilkannya. Tidak sedikit pemimpin yang berhasil menguasai ruang digital, tetapi masih menghadapi berbagai persoalan mendasar di wilayah yang dipimpinnya. Akibatnya, perhatian publik sering kali teralihkan dari substansi menuju sensasi.

Persoalan ini penting dibahas karena pemerintahan pada dasarnya bukan panggung hiburan. Jabatan publik lahir dari amanah rakyat untuk menyelesaikan masalah bersama. Ketika fokus pemimpin lebih banyak diarahkan pada penciptaan popularitas dibanding penyelesaian persoalan masyarakat, maka fungsi kepemimpinan berisiko mengalami pergeseran.

Media sosial memang memiliki manfaat besar dalam mendekatkan pemimpin dengan masyarakat. Komunikasi menjadi lebih cepat, aspirasi lebih mudah diterima, dan transparansi dapat meningkat. Namun media sosial juga memiliki kelemahan. Algoritma cenderung lebih menyukai hal-hal yang menarik perhatian dibanding hal-hal yang benar-benar penting. Akibatnya, kebijakan yang rumit tetapi berdampak besar sering kalah populer dibanding konten yang sekadar mengundang simpati sesaat.

Baca Juga :  Festival Budaya Kerinci 2025 "Balik Kudahin" Harus Keluar dari Jerat “Pamer Kostum”

Dalam kondisi seperti ini, pemimpin dituntut memiliki kemampuan membedakan antara pencitraan dan pelayanan. Seorang pemimpin yang baik tidak boleh terjebak dalam perlombaan mencari perhatian publik semata. Ia harus berani mengambil keputusan yang mungkin tidak populer tetapi dibutuhkan masyarakat dalam jangka panjang.

Lebih jauh lagi, masyarakat juga memiliki peran penting dalam membangun kualitas demokrasi. Publik perlu lebih kritis dalam menilai pemimpin. Ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari jumlah pengikut media sosial, banyaknya unggahan kegiatan, atau seringnya nama seseorang menjadi perbincangan. Yang lebih penting adalah apakah kemiskinan berkurang, pelayanan publik membaik, lapangan pekerjaan bertambah, dan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Karena itu, pemerintah perlu memperkuat budaya evaluasi berbasis kinerja. Setiap program harus memiliki indikator yang jelas dan dapat diukur. Transparansi anggaran, laporan capaian program, dan keterlibatan masyarakat dalam pengawasan harus terus ditingkatkan. Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi sarana akuntabilitas, bukan sekadar alat membangun popularitas.

Baca Juga :  Tragedi Longsor Cisarua: Satu Keluarga Ditemukan Meninggal di Dalam Rumah

Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat pemimpin berdasarkan jumlah unggahan media sosial yang dimilikinya. Sejarah mencatat pemimpin dari perubahan yang berhasil ia hadirkan bagi masyarakat. Sebab popularitas dapat datang dan pergi dalam hitungan hari, tetapi dampak kebijakan akan dirasakan rakyat selama bertahun-tahun. Maka, di tengah hiruk-pikuk dunia digital, kita membutuhkan lebih banyak pemimpin yang bekerja daripada sekadar tampil.

Penulis adalah sachrul hidayah Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang memiliki minat pada kajian kepemimpinan, kebijakan publik, dan demokrasi digital.

Berita Terkait

Menerka Karakter Manusia Kerinci
PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
‎Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ
Himsak Kecam Gubernur Jambi: Jangan Sulap Bencana Menjadi Laporan Pencitraan di Hadapan Presiden
Menagih Komitmen Tata Kelola Lingkungan di Mendalo Darat
Selamat Jalan H. Bakri: Jambi Kehilangan Putra Terbaik, IKAMI Kehilangan Sosok Pengayom
LBH NADI Perkuat Sinergi dengan BNNP Jambi, Soroti Modus Baru “Pod Getar” dan Dorong Penguatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB