Hutan Kita Tinggal Sisa: Mau Sampai Kapan Pemuda Diam Saja?

- Redaksi

Senin, 20 April 2026 - 02:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Randi Vitora

Porosjambimedia.com Kalau ada yang bilang isu lingkungan itu cuma urusan aktivis atau orang-orang di kementerian, mereka salah besar. Masalah lingkungan adalah masalah perut, masalah kesehatan, dan yang paling utama: masalah masa depan kita. Sebagai pemuda, kita punya alasan yang sangat kuat untuk “ikut campur” dalam urusan hutan dan alam. Kenapa? Mari kita bedah secara sederhana.

1. Kita Adalah Korban Utama Krisis Iklim

Bayangkan begini: Jika dunia ini adalah sebuah rumah, generasi sebelum kita sudah menggunakannya sejak lama. Sekarang, saat kunci rumah itu diserahkan ke kita, atapnya sudah bocor dan pondasinya mulai retak.

Data dari para ilmuwan dunia (IPCC) sudah memperingatkan kalau bumi makin panas. Mungkin kita merasa suhu naik 1 atau 2 derajat itu sepele. Tapi dampaknya nyata: cuaca jadi makin tidak menentu. Petani kita bingung kapan harus menanam karena musim hujan dan kemarau sudah tidak bisa ditebak. Akibatnya? Harga pangan naik, dan kita yang kena dampaknya. Kita tidak punya pilihan selain memperbaiki “rumah” ini sekarang juga sebelum benar-benar roboh.

2. Penjaga Benteng Terakhir (Hutan Tropis)

Kita beruntung tinggal di Indonesia yang punya hutan tropis luar biasa. Hutan ini adalah “paru-paru” dunia. Tapi kenyataannya, luas hutan kita terus berkurang. Data dari satelit (Global Forest Watch) menunjukkan kalau hutan kita sering kali kalah dengan kepentingan tambang atau kebun skala besar.

Data KKI Warsi yang menunjukkan hilangnya 2,5 juta hektare hutan Jambi dalam 52 tahun terakhir merupakan alarm keras bagi kita, karena sisa tutupan hutan yang kini hanya tinggal 929.899 hektare membuktikan bahwa benteng alam kita sedang berada di titik nadir akibat syahwat eksploitasi lahan dan pertambangan yang membabi buta. Sebagai pemuda, kita tidak boleh hanya diam menyaksikan sisa paru-paru hijau ini terus digerogoti, sebab kehilangan hutan berarti mewarisi utang bencana dan krisis ekologi yang akan kita tanggung sendiri di masa depan.

Baca Juga :  Ketidak transparanan dalam Pemilihan Pengurus Mahasiswa Tutor PAI di Universitas Jambi

Inilah saatnya generasi muda mengambil peran sebagai pengawal kebijakan yang paling berisik, memastikan bahwa alih fungsi lahan tidak lagi mengorbankan ruang hidup kita, demi menjaga apa yang tersisa agar tidak menjadi sekadar legenda bagi anak cucu nanti.

Di sinilah peran pemuda. Kita tidak perlu selalu demo di jalan. Dengan ponsel di tangan, kita bisa jadi pengawas. Kalau ada hutan yang gundul secara mencurigakan, kita bisa viralkan. Literasi digital kita adalah senjata paling tajam untuk menekan mereka yang ingin merusak alam demi keuntungan pribadi. Kita adalah mata dan telinga bagi hutan yang tidak bisa bicara.

3. Ekonomi Hijau: Peluang Kerja Masa Depan

Banyak orang takut kalau kita terlalu peduli lingkungan, ekonomi bakal mandek dan tidak ada lapangan kerja. Itu pemikiran kuno.

Faktanya, dunia sedang berubah. Sekarang mulai muncul yang namanya Green Jobs atau pekerjaan hijau. Mulai dari pengolahan limbah, energi tenaga surya, hingga bisnis produk ramah lingkungan. Lembaga internasional (ILO) memprediksi ada jutaan lapangan kerja baru di bidang ini. Jadi, mengawal isu lingkungan sebenarnya adalah cara kita menyiapkan lapangan kerja untuk generasi kita sendiri. Kita sedang membangun ekonomi yang tidak menghancurkan alam, tapi justru bekerja sama dengan alam.

Baca Juga :  Himsak Kecam Gubernur Jambi: Jangan Sulap Bencana Menjadi Laporan Pencitraan di Hadapan Presiden

4. Melawan “Utang” Bencana

Setiap kali ada hutan yang ditebang sembarangan di hulu, yang menerima kiriman banjir adalah orang-orang di hilir. Data dari BNPB menunjukkan bahwa hampir semua bencana di Indonesia belakangan ini adalah bencana yang berhubungan dengan air dan cuaca, seperti banjir dan longsor.

Ini adalah “utang” ekologi yang ditinggalkan untuk kita bayar. Kalau pemuda diam saja saat melihat kebijakan yang merusak lingkungan, artinya kita setuju untuk membayar utang itu dengan nyawa dan harta benda kita di masa depan. Kita harus bersuara supaya kebijakan pembangunan lebih masuk akal dan tidak hanya mengejar untung sesaat.

Intinya begini:

Mengawal isu lingkungan bukan cuma soal menanam pohon (walaupun itu penting), tapi soal keberanian untuk mengawasi kebijakan. Kita punya energi, kita punya akses informasi, dan kita punya kepentingan paling besar karena kita yang akan hidup paling lama di bumi ini.

Kalau bukan kita yang bersuara, siapa lagi? Dan kalau tidak sekarang kita mulai cerewet soal hutan dan lingkungan, kapan lagi? Sebelum semuanya terlambat dan hanya menyisakan cerita untuk anak cucu kita nanti.

Berita Terkait

Menerka Karakter Manusia Kerinci
PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
‎Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ
Himsak Kecam Gubernur Jambi: Jangan Sulap Bencana Menjadi Laporan Pencitraan di Hadapan Presiden
Menagih Komitmen Tata Kelola Lingkungan di Mendalo Darat
Selamat Jalan H. Bakri: Jambi Kehilangan Putra Terbaik, IKAMI Kehilangan Sosok Pengayom
LBH NADI Perkuat Sinergi dengan BNNP Jambi, Soroti Modus Baru “Pod Getar” dan Dorong Penguatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB