Memaknai Fitrah di Moment yang Fitri

- Redaksi

Selasa, 24 Maret 2026 - 14:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Diori Antomi  (Fungsional Muslim Cendekia Institute)

Porosjambimedia.com – Setiap tahun, Idul Fitri datang dengan wajah yang hampir seragam: takbir berkumandang, tangan saling berjabat, dan kalimat “mohon maaf lahir dan batin” beredar begitu ringan di bibir. Tapi justru di situlah masalahnya, ketika sesuatu yang sakral menjadi terlalu biasa, ia berisiko kehilangan makna.

Kita merayakan kefitrahan, tetapi jarang benar-benar memaknainya.

Fitrah, dalam pengertian yang lebih dalam, bukan sekadar “kembali suci” setelah Ramadhan. Ia adalah kondisi kesadaran manusia yang lurus, yang tidak tunduk pada ego, tidak dikendalikan oleh hasrat kekuasaan, dan tidak berkompromi dengan ketidakadilan. Fitrah adalah titik di mana manusia kembali menjadi dirinya yang paling otentik: jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Masalahnya, kita sering berhenti pada simbol, bukan substansi. Religius secara simbolik tetapi kosong secara substansi.

Dalam kerangka pemikiran Nurcholish Madjid, Idul Fitri bukan sekadar perayaan ritual, melainkan momentum kembali kepada nilai dasar kemanusiaan. Ia menolak pemahaman agama yang berhenti pada formalitas. Bagi Cak Nur, kesalehan sejati tidak diukur dari seberapa khusyuk ibadah kita, tetapi sejauh mana nilai-nilai itu menjelma dalam sikap sosial: keadilan, keterbukaan, dan kemanusiaan.

Baca Juga :  Pimpinan dan Anggota DPRD Hadiri Seminar Akhir Kajian Balitbang Peningkatan Penerimaan Daerah melalui PAD

Di sinilah kita perlu jujur: apakah setelah Ramadhan kita benar-benar lebih peduli pada ketimpangan sosial? Apakah kita lebih sensitif terhadap ketidakadilan? Atau jangan jangan yang kita rayakan hanyalah sebatas ritual kosong saja.

Perspektif tasawuf mengajarkan bahwa fitrah bukan sekadar “bersih dari dosa,” tetapi jernih dalam kesadaran. Ia menuntut proses tazkiyatun nafs, pembersihan diri dari keserakahan, kesombongan, dan kecenderungan untuk menindas.

Dalam bahasa yang lebih keras: fitrah adalah perlawanan terhadap diri sendiri yang korup secara moral.

Sejalan dengan itu, Wahyuni Nafis melihat Idul Fitri sebagai momentum rekonsiliasi yang mendasar. Bukan sekadar saling memaafkan secara sosial, tetapi berdamai dengan kenyataan bahwa kita sering gagal menjadi manusia yang utuh. Rekonsiliasi ini tidak boleh berhenti pada kata-kata; ia harus menjelma menjadi tindakan.

Baca Juga :  Ketika Dana Desa Menjadi Investasi Publik Bukan Pribadi: Keberhasilan Desa Menciptakan Wisata Berbasis Kolaborasi Dan Kesejahteraan

Memaknai fitrah berarti mengambil sikap. Sikap untuk tidak diam ketika kebenaran dipelintir.

Sikap untuk tidak apatis ketika ketimpangan dibiarkan.

Sikap untuk tetap rasional, tetapi juga berempati.

Karena fitrah bukan hanya soal kembali kepada Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir di tengah manusia.

Maka, daripada sekadar mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin,” mungkin kita perlu bertanya lebih dalam: Apakah kita sudah cukup jujur untuk mengakui kegagalan kita sebagai manusia sosial?

Jika tidak, maka fitrah hanya akan menjadi slogan tahunan diulang, dirayakan, lalu dilupakan.

Dan kita, sekali lagi, gagal menjadi manusia yang benar-benar “fitri”.

Editor Redaksi : Rudi

Berita Terkait

Menerka Karakter Manusia Kerinci
PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
‎Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ
Himsak Kecam Gubernur Jambi: Jangan Sulap Bencana Menjadi Laporan Pencitraan di Hadapan Presiden
Menagih Komitmen Tata Kelola Lingkungan di Mendalo Darat
Selamat Jalan H. Bakri: Jambi Kehilangan Putra Terbaik, IKAMI Kehilangan Sosok Pengayom
LBH NADI Perkuat Sinergi dengan BNNP Jambi, Soroti Modus Baru “Pod Getar” dan Dorong Penguatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba
Berita ini 108 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB