Jakarta, Porosjambimedia.com– Ramadan tahun ini membawa suasana berbeda bagi pasangan Ustaz Solmed dan April Jasmine. Kedua putra kembar mereka, Mahir dan Aqiel, kini menjalani pendidikan di pondok pesantren sehingga rumah terasa lebih lengang dari biasanya.
Meski harus berpisah dengan anak-anak, Ustaz Solmed mengungkapkan bahwa proses melepas keduanya berjalan tanpa drama. Saat diantar ke pesantren, Mahir dan Aqiel tidak menunjukkan tangisan. Hal tersebut, menurutnya, bukan terjadi begitu saja, melainkan hasil dari pola komunikasi yang dibangun sejak awal.
Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak memilih pendekatan otoriter dalam mengambil keputusan. Sebelum memutuskan memasukkan anak ke pesantren, ia dan sang istri mengajak mereka berdiskusi secara terbuka. Anak-anak diberi pemahaman mengenai alasan, manfaat, serta konsekuensi dari keputusan tersebut, termasuk kemungkinan harus berjauhan dalam waktu lama.
Ustaz Solmed mencontohkan pentingnya dialog dalam keluarga, yakni dengan melibatkan anak dalam pembicaraan, bukan sekadar memberi perintah. Pendekatan ini membuat anak merasa dihargai dan memahami pilihan yang diambil.
Saat momen perpisahan tiba, respons anak justru menunjukkan kesiapan mental yang dinilai cukup matang. Bahkan, pertanyaan yang muncul dari mereka adalah mengenai kapan orang tua akan menjemput setelah masa pendidikan selesai, bukan keluhan atau tangisan.
Meski menempuh pendidikan agama di pesantren, Ustaz Solmed menegaskan bahwa ia tidak memaksakan anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya sebagai pendakwah. Baginya, tugas orang tua adalah memberikan dasar agama yang kuat serta nilai karakter, sementara pilihan cita-cita tetap menjadi hak anak di masa depan. (Tin)















