Kalimantan Barat, Porosjambimedia.com– Di hamparan perairan Desa Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, berdiri sebuah klenteng yang tampak kokoh seolah terapung di tengah laut. Tempat ibadah bernama Xuan Wu Gong itu telah lama menjadi ikon spiritual sekaligus destinasi wisata religi di kawasan tersebut.
Menariknya, klenteng yang dibangun pada akhir 1960-an oleh komunitas Tionghoa setempat itu dirawat oleh seorang pria Muslim bernama Hasan (75). Selama lebih dari 30 tahun, Hasan mengabdikan dirinya menjaga kebersihan dan keamanan bangunan suci tersebut.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar lima kilometer dari daratan menggunakan perahu motor. Setiap pagi, Hasan berangkat dari rumahnya di pesisir dengan perahu kecil untuk memastikan klenteng tetap terawat.
Hasan mengaku pernah menerima upah pada awal masa kerjanya. Namun, karena merasa nominalnya tidak mencukupi, ia sempat berhenti. Beberapa waktu kemudian, ia kembali diminta menjaga klenteng tersebut, kali ini tanpa ikatan gaji tetap.
“Kalau tidak terikat gaji, saya lebih leluasa. Bisa tetap bekerja tapi tidak merasa terbebani,” ujarnya.
Meski tidak menerima bayaran rutin, Hasan kerap memperoleh pemberian sukarela dari para pengunjung yang datang untuk berdoa maupun berwisata. Klenteng berukuran sekitar 20 x 20 meter itu ramai didatangi menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Selama puluhan tahun bertugas, Hasan telah berinteraksi dengan pengunjung dari berbagai kota hingga mancanegara. Ia menilai perbedaan agama bukanlah penghalang untuk saling menghormati.
“Yang penting saling menghargai dan tidak melanggar aturan,” katanya.
Di tengah kondisi fisik yang tak lagi sekuat dulu, semangat Hasan tetap teguh menjaga harmoni di tengah laut, menjadi simbol toleransi yang hidup di Kalimantan Barat. (Khy)















