Jakarta, Porosjambimedia.com – Melinda French Gates angkat bicara menyusul dirilisnya dokumen terbaru terkait mendiang Jeffrey Epstein yang kembali menyeret nama Bill Gates. Melinda menegaskan bahwa dirinya tidak lagi memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan masa lalu mantan suaminya, dan meminta agar semua pertanyaan diarahkan langsung kepada pihak-pihak yang terlibat.
Dalam wawancara di podcast Wild Card milik NPR, Melinda mengaku kemunculan detail-detail baru dalam dokumen tersebut kembali membuka luka lama yang pernah ia alami selama pernikahannya dengan pendiri Microsoft itu. Ia menyebut setiap informasi baru yang muncul ke publik menjadi pengingat masa sulit yang telah lama berusaha ia tinggalkan.
Melinda menyoroti pentingnya pertanggungjawaban sosial atas kasus Epstein, khususnya terhadap perlindungan perempuan muda. Ia menyatakan tidak seharusnya ada gadis mana pun yang ditempatkan dalam situasi eksploitasi seperti yang terungkap dalam kasus tersebut.
Ia juga mengungkapkan bahwa isu ini terasa sangat personal baginya, mengingat usia para korban yang seumuran dengan anak-anak perempuannya. Menurut Melinda, rasa sedih dan empati terhadap para korban menjadi beban emosional tersendiri setiap kali dokumen-dokumen itu kembali dibuka ke publik.
Lebih lanjut, Melinda menegaskan bahwa pertanyaan tentang apa yang tidak ia ketahui selama pernikahan sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang-orang yang terlibat langsung, termasuk Bill Gates. Ia menekankan bahwa dirinya telah memilih menjauh dari polemik tersebut dan fokus melanjutkan hidup.
Nama Bill Gates disebut secara eksplisit dalam jutaan halaman komunikasi pribadi Epstein yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat. Dokumen itu menyoroti luasnya jejaring Epstein dengan sejumlah tokoh berpengaruh dunia.
Menanggapi hal ini, pihak Bill Gates membantah keras tuduhan yang beredar. Juru bicaranya menyebut klaim dalam dokumen tersebut tidak berdasar dan menilai Epstein hanya berusaha mencemarkan nama baik Gates setelah gagal membangun hubungan berkelanjutan dengannya.
Meski demikian, sejumlah email yang dikaitkan dengan Epstein memuat tuduhan serius, termasuk permintaan fasilitasi pertemuan pribadi, pencarian obat untuk penyakit menular seksual, hingga permintaan penghapusan jejak komunikasi terkait isu tersebut.
Melinda mengaku rilis dokumen ini memunculkan kesedihan mendalam, namun fokus utamanya kini tertuju pada upaya memastikan keadilan bagi para korban. Ia berharap proses hukum dapat memberikan pertanggungjawaban yang layak bagi perempuan-perempuan muda yang terdampak.
Kasus Jeffrey Epstein kembali menjadi perhatian dunia seiring dibukanya arsip-arsip baru yang mengungkap dugaan penyalahgunaan kekuasaan dan relasi dengan tokoh elite lintas sektor. (Dta)















